Advertisement
Advertisement
Episode 17 Part 1

Dr. Jae Gul sedang menenangkan diri di dermaga sambil menatap lautan yang luas, tiba-tiba ia melihat hyun berjalan da dia pun mendekati hyun, hyun mengatakan bahwa kamu bekerja kembali hari ini kepada dr. Jae Gul dan dia juga menanyakan kondisi ibumya setelah operasi.

Tiba-tiba dr. Jae Gul membahas perasaan Hyun kepada Jae eun, dia bilang kalau Hyun benar-benar menyukainya kamu harus berhati-hati karena besar kemungkinan dia akan merebut Jae Eun darinya, setelah pembicaraannya selesai dia pun langsung pergi begitu saja, dan Hyun masih berdiam diri meratapi perkataan dr. Jae Gul tadi. Dan ternyata dr. Jae Gul melihat percakapn mereka dari kapal, dan dia bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
Hyun dan dr. Jae Gul sedang menggati seragam mereka, kemudian dr. Joon Young datang dan mengatakan bahwa sedang ada perkembangan pesat di kapal ini yaitu terjadi cinta segitiga di antara kalian dan dr. Song yang sangat menakutkan itu, dia mengtakan bahwa selera kalian sangat aneh karena menyukai dr. Song yang menakutkan, dia meminta kepastian kepada hyun dan dr. Jae Gul, seberapa besar rasa suka kalian kepada dr. Song.

Dr. Jae Gul: seberapa besar rasa cintamu? Katakan dengan jelas atau aku akan merebutnya
Dr. Joon Young: asstaga!!! Menakutkan sekali perkataanmu, bahkan dr. Song sama sekali bukan tipemu.

Hyun ingin tahu alasan kenapa dr. Jae Gul jadi bersikap aneh seperti ini, dia hanya menjawab kalau dr. Song tahu kapan waktunya harus berkorban, menurut dr. Joon Young perkataannya itu terdengar suram dan tidak pernah terdengar sebelumnya.

Dr. Jae Gul : Eun Jae menyelamatkan nyawa ibuku, kebaikan dibalas dengan nyawa. Begitulah sikap kesatria.

Dia menekankan kembali kepada hyun “jika kamu terlambat, Eun Jae menangis karena Nona Choi, aku akan berusahamerebutnya darimu sekuat tenaga, walau harus mati kehabisan darah.
Dr. Joon Young: kenapa ? kenapa harus sampai kehabisan darah ?
Dr. Jae Gul: aku bisa mati, karena dia mengejarku dengan pisau bedah.
Dr. Joon Young meledeknya : yeaaa, memang kamu bisa menggodanya?
Dr. Jae Gul: tentu saja, sekarang kan aku sudah dewasa.
Dr. Jae Gul menyemangati Hyun untuk berusaha lebih keras dan jangan sampai dr. Song direbut. Hmmm cinta seharusnya tidak sesuram ini. setelah percakapan mereka selesai dr. Jae Gul tiduran sambil tersenyum kecil, mungkin dia, sedang memikirkan dr. Song.

Saat Hyun keluar, Nona Choi sudah ada di depan pintu, hyun pun kaget kenapa Nona Choi ada di depan pintu, Nona Choi merasa kalau hyun menghindar karena dr. Song. Hyun menekankan kalau menguping itu tidak baik.

Nona Choi : sepertinya itu benar, relakan dia dan kembalilah padaku. Kamu tidak akan pernah bisa memilikinya.
Hyun : apa maksudmu ?
Nona Choi : kudengar, kamu dokter terakhir yang ibunya temui sebelum meinggal, ibunya meinggal karena kamu (dia menyalahkan Hyun atas kematian ibunya dr. Song)
Hyun tidak menerima dengan perkataan Nona Choi, namun nona choi tetap bersikeras kalau hyun sebenarnya bisa menolong ibu dr. Song, dia menekankan kalau dr. Song yang akan bilang begitu bukan dirinya.

Nona Choi : kalau dia ibumu, sanggupkah kau mencintai, dokter yang membiarkan ibumu meinggal.
Setelah nona choi selesai bicara hyun langsung pergi meninggalkannya tanpa bicara sepetah katapun.

Hyun berjalan di teras kapal, tiba-tiba dia melihat Eun jae di dermaga sedang dikerumuni banyak orang. Ternyata orang-orang itu menagih hutang ayahnya (Song Jae Joon) kepada Eun Jae.
Rentenitr : jika kamu tidak dapat melunasi hutanya... kamu harus melunasi hutang ayahmu.
Salah satu dari rentenir itu bilang “kudengar kamu seorang dokter?” namun yang lain menghentikan perkataannya dan bilang “jika kamu tidak mampu melunasinya, keluarkan organ tubumu dan jual saja untuk membayar hutang kepada kami” dia dengan lantang menekankan perkataannya “jika kamu tidak bisa, biarkan kamu yang melakukannya kepadamu”. Dr. Song hanya diam saja dengan apa yang mereka lakukan kepadanya. Mereka berjanji akan kembali menagih hutang kepadanya kapanpun jika mereka inginkan.

Setelah para rentenir menaiki mobi, Hyun datang dan bertanya “siapa mereka?” Eun jae mengacuhkannya pertanyaannya dan bilang “bukan urusanmu” hyun tidak memaksanya untuk menjawab tapi dia akan menanyakan langsung kepada mereka. Kemudian eun jae meoleh kembali dan menahan hyun yang akan mencari jawaban langsung kepada mereka. Hyun kembali menanyakan “siapa meraka? Kenapa mereka sangat tidak sopan?”
Eun jae : identitas mereka bukan urusanmu, jadi jangan mencampuri urusanku (langsung pergi bergitu saja).

Eun jae memasuki ruangannya, dan hyun juga mengikutinya, hyun memaksa eun jae untuk memberitahu siapa mereka. Eun jae bersikeras tidak mau memberitahu siapa meraka dan dia berbohong bahwa mereka wali pasien.
Hyun : apa pernah ada masalah di kapal atau di ruang IGD?
Eun jae mengatakan tidak pernah ada masalah apapun selama di kapal dan  bilang “kenapa kamu mempertanyakannya?” hyun hanya ingin tahu apa maslahnya dan siapa mereka, agar dia bisa membantu.

Eun jae : kenapa kamu ingin membantuku? Sudah kubilang kita hanya sekedar kolega tidak kurang dan tidak lebih. Jadi, selain urusan pekerjaan aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu.
Hyun : lalu, kenapa kamu berusaha menghindariku? Karena aku kolegamu?
Eun jae : bikan.
Hyun : apa kamu terusik karena nona choi? Jika begitu, aku akan menjelaskannya.
Eun jae : kamu narsistik ? kamu begitu percaya diri.
Hyun menegaskan bukan karena hal itu dia bersikap seperti ini. Eun jae merasa sibuk dan meminta hyun untuk segera pergi dari ruangannya. Hyun masih terus membahasnya “jika bukan karena itu? Apa karena ibumu? Eun jae langusng terdiam.
Hyun : apa karena aku tidak bisa menyelamatkannya?
Eun jae : bukankah sudah jelas, jika aku ada diposisi itu, bisakah kamu tidak membeci aku? Keduanya pun terdiam.

Hyun kembali keruangannya dan memikirkan percakapannya dengan eun jae, dan dia bingung harus berbuat apa dan menghadapainya seperti apa. Di sisi lain eun jae juga memikirkan hal yang sama, tatapan mereka sama-sama kosong.


Eun jae mendapat panggilan telepon dari Woo Jae, dia pun langsung mengangkatnya “iya. Ada apa?” Woo jae langung memberitahu kalau dia adiknya, eun jae sudah mengetahuinya sebelum dia memberitahu. Eun jae tidak bertele-tele, dia langsung menanyakaan keinginan adikya.
Woo jae : kakak, bisakah mengirimkan uang 500 dollar lagi?
Eun jae sudah mengirimkan uangnya dua pekan lalu, namun woo jae bersikeras minta uang tersebut dengan alasan untuk uang semester dan dia membutuhkan lebih banyak uang untuk keperluannya.
Eun jae : kakak bukan bnak, cari uang di tempat lain saja.
Woo jae merengek agar tetap diberi uang, eun jae pun tidak mau kalah, dia mengancam adiknya akan memotong uang jajn bulan depan, woo eun pun tidak bisa berkata apa-apa. Kemudain eun jae menanyakan kepada adinya “apa ada seseorang yang menemuimu?”
Woo eun : apa? Penagih utang yang menanyakan soal ayah? (sambil melihat kesampingya) apa kakak yakin ayah ada di korea?


Eun jae yakin bahwa ayahnya ada di korea, dia meminta adiknya untuk langsung menghubungi jika dapat kabar tentang ayahnya. Meskipun terlihat seperti kakak yang menyeramkan, akhirnya dia akan mengirimkan uang untuk adiknya meski tidak sesuai dengan permintaannya awal. Dan itu hanya bulan ini saja, dia juga miminta adiknya untuk menggunakan uang tersebut dengan bijak.
Setelah menutup panggilan adiknya dia kembali kebingungan, dan ternyata suster pyo mendengar percakapnnya tadi di telpon.


Dan ternyata ayahnya ada saat mereka sedang menelpon dengan eun jae, ayahnya bertanya “bagaimana? Dia bilang apa?” dia memberitahu ayahnya kalau eun jae tahu ayah ada di korea, setelah mendengar itu ayahnya kaget dan langsung menegemasi pakaiannya, woo jae mencegahnya namun ayahnya bilang “ayah harus pergi, karena kakakmu lebih menakutkan dari penagih utang dan polisi.
Woo jae (langsung berdiri menahan ayahnya? memangnya ayah punya tujuan?
Ayah : ayah harus pergi.
Woo jae tetap menahannya dan mengajak dia untuk  beli makan bersama “jika ayah mau pergi setidaknya ayah harus makan dulu dan jangan membairakan perut ayah kosong” ayahnya tidak berkata apa-apa lagi setalh melihat kepedulian anak laki-lakinya.

Rumah Sakit Kapal mulai berlayar lagi, kapten dan pak anh mengumumkan kepada para nelayan untuk melakukan pengobatan di rumah sakit kapal dengan bantuan traktor, dia juga mempromosikan bahwa orang-orang dan dokternya sangat baik dan ramah, begitupun dengan obat-obatnnya juga bagus, mereka juga menyapa para ibu-ibu yang sedang sibuk bekerja.
Ada seorang ibu yang bilang “aku suka lupa minum obat, bahkan hari ini juga belum meminumnya” pak anh meminta ibu tersebut agar tidak telat minum obat. Mereka mulai mempromosikan rumah sakit kapal karena tidak datang setiap hari.


Mereka datang ke sebuah rumah, disana terlihat tidak ada orang yang tinggal di rumah tersebut, mereka terus berteriak “kami dari kapal rumah sakit” karena tidak ada yang menjawab seruannya, mereka sempat berpikir kalau orang rumah sedang pergi. Pak han bilang “dia jarang keluar rumah karena sakit stroke.

Tiba-tiba pak han mendengar suara, dan itu mengaggetkan kapten karena reaksi pak han, pak han pun pergi untuk mencari asal suara tersebut. Mereka sangat kaget melihat pasien tergeletak di tanah dalam keadaan kesakitan, mereka pun langsung membantunya bangun dan pak Han membopong kakek tua itu.


Kapten dan pak han akhirnya tiba di rumah sakit kapal membawa pasien, kapten langsung berteriak memanggil dr. Song karena butuh bantuannya. Di kapal sudah banyak pasien yang menunggu panggilan pemerikasaan, mereka khawatir melihat keadaan kakek itu, kemudian semua dokter keluar dari rauangan. Dr. Jae Gul kaget melihat pasien, karena dia pelayan rumah sewaktu dr. Aku pungtur kecil. Dr. Song datang dan langsung membawa pasien keruangannya. Selama menuju ruangan kapten bilang bahwa perut pasien kesakitan, dr. Jae Gul bilang “kenapa kamu tidak menghubungiku kakek” dr. Jae Gul sangat khawatit dengan keadaan si kakek, perawat pyo mengomeli pak han karena selalu menggendong di bagian yang sakit

Dr. Song memeriksa pasien, dr. Jae Gul bilang “keadaannya darudar, dia mengalami emmfisema paru-paru, suhu tubuh pasien 3,8 derajat celcius. “emfisema paru-paru adalah penyakit pada paru-paru, dr. Song memriksa lebih lanjut dan mendiagnosa ada hernia di bagian perut pasien. Namun Dr. Song tidak bisa mengobatinya secara manual dan perlu memeriksanya dengan USG, setelah melihat demamnya, menurut dr. Song ini adalah hernia terjepit, itu menyebabkan organ yang terlilit menyumbet aliran darah dan mulai membusuk.
Jae Gul : tidak bisakah kamu mengobatinya dengan operasi?
Dr. Song akan memerikasa hasil USG terliebih dahulu dan setelah itu baru bisa memutuskan bisa atau tidaknya melakukan operasi terhadap pasien. Pemeriksaan USG sedang berlangsung, diagnosa dr. Song benar kalau itu hernia terjepit.
Suster memberikan hasil tes darah kepada dr. Hyun, dia langung melihat hasil tes darahnya. Suster pyo memberitahu bahwa denyut nadi pasien makin cepat. Dr. Song panik dan langsung mengatakan “kita harus melakukan operasinya sekarang juga” namun dr. Hyun menahannya dan menunjukkan hasil tes darah kepada dr. Song. Dr. Song dan dr. Hyun terlihat sangat khawatir dengan hasil pemeriksaan darah tersebut.
Dr. Jae Gul marah-marah kepada hyun dan eun jae karena tidak bisa mengoperasi kakeknya, tapi dr. Song menekankan kalau dia bisa mengoperasinya, hyun bilang kalau dia yang mencegahnya.
Dr. Jae Gul: walau dokter bedahnya mengatakan bisa. Ini bukan transplantasi, ini hanya hernia. Dia cukup mahir untuk mengobatinya (sambil menunjuk dr. Song)
Dr. Hyun : dia mampu untuk membedah, dia dapat mengoperasinya tapi pasien ini tidak dapat dibius, dia tidak dapat menerima anestesi umum karena paru-parunya.
Dr. Jae Gul : bisu dia dari tulang punggung, bius tulang belakangnya, seperti pasien dengan tulang ruptur-testis.
Hyun tetap mengatakan “tidak” dan bilang kalau kamu juga tahu sebabnya. Hyun dan Jae Geol terus berdebat masalah operasi pasien dan bius. Dr. Song belum memberikan keputusannya dan masih mencerna perdebatan mereka. Perdebatan mereka semakin memanas dan seru.
Hyun : bahkan sebelum opersainya dimulai, anestesi ....
Jae Geol : dapat membunuhnya. (kemudian dia bertanya kepada dr. Song) kenapa kamu bilang dapat mengoperasinya? Apa yang bisa kamu lakukan ? (dengan sikap angkuhnya) bagiku pasien itu lebih bergharga dari ayahku.
Jae eun : pakai lidokaina untuk bius lokal
Jae Geol : apa?
Hyun : ini tidak mungkin
Eun jae (menegaskan) : jika tidak bertindak pasien akan meninggal.
Jae Geol terus mengoceh dan bagaimana caranya agar kakek bisa diselamatkan, Eun Jae dan Hyun masih terus berpikir. Dan akhirnya Hyun bilang “ayo mencobanya” dan bilang kepada Eun Jae “kamu akan mengoperasi dengan bius lokal.

Hyun : Jika operasi dibutuhkan, aku membutuhkan satu tindakan penyelamatan lagi.
Mereka mulai membahas teknik anestesi dengan akunpunktur, dan akan semakin menegangkan...
Eun Jae : bisakah anestesi dengan akunpunktru menjadi tindakan penyelamtan?
Hyun : pilihan kita tidka banyak (Jae Geol semakin khawatir) kita harus mengurangi rasa sakit untuk meminimalkan resiko dan kita harus menyelamtkan pasien, kemungkinan buruknya juga tidak berbahaya. Jae Eun masih belum angkat bicara.

Jae Geol : Dokter ... (memanggil dr. Song) akhirnya dr. Song pun siap untuk melakukan operasi dengan segala resiko yang akan dia hadapi menggunakan anestesi lokan dan anestesi akunpunktur.

BERSAMBUNG KE EPISODE 17 PART 2 SELANJUTNYA>>

<< SINOPSIS HOSPITAL SHIP EPISODE 16 PART 2 SEBELUMNYA