Advertisement
Advertisement
Episode 15 Part 1

All images credit and content copyright: Hunan TV


Ouyang Heng berjalan sambil senyum-senyum melihat ponselnya, entah apa yang sedang ia lihat. Ouyang Heng dan papanya berpapasan. Papa Ouyang Heng menghampirinya, tapi Ouyang Heng mengabaikannya dan kembali berjalan.
Papanya berkata “rekormu tahun lalu dipecahkan oleh seseorang dan kau masih bisa tersenyum?”. Ouyang Heng berhenti dan berkata “jika Tang Tang Yibai semakin kuat dan terbang lebih tinggi, kemenanganku darinya akan lebih bermakna”.

Dalam keadaan mabuk, Pelatih Wu mengatakan kepada seluruh tim-nya bahwa saat di di universitas, dia diam-diam menyukai Kepala Pelatih Yuan. Pelatih Wu terus berkata dalam keadaan mabuk “siapa yang diam-diam menyukainya? Sebagai lelaki sejati, aku menyukainya terang-terangan!” mereka tersenyum melihat konidisi Pelatih Wu yang semakin terpengaruh oleh alkohol.
Pelatih Wu : saat Kepala Pelatih Yuan kalian pertama gabung di tim renang. Aku langsung mengyukainya pada pandangan pertama. Jadi aku menyatakannya di hadapan seluruh tim renang “runmei! Kuberitahu kau, aku sangat menyukai kamu!.
Semuanya menertawakan Pelatih Wu yang terus mengutarakan isi hatinya. Zheng Lingye menuangkan minumannya lagi dan bertanya kembali “lalu, lalu apa yang terjadi diantara kalian berdua, setelah kau membuat pernyataan itu?”.
Pelatih Wu : aku bisa bagaimana? Aku terus mengejarnya (Yun Duo dan Tang Yibai saling memandang dan tersipu malu) tidak peduli berapa kali dia menolakku, aku tetap saja mengejarnya. Sampai suatu hari, dia memberiku satu kesempatan. Dia tidak menyukai pria yang lebih lemah darinya. Jadi dia ingin bertanding denganku. Jika aku bisa menang melawannya, dia akan menerimaku.
Zheng Lingye : Kepala Pelatih Yuan ingin bertanding denganmu? Pada saat itu kau juga perenang resmi di tm renangmu. Bagaimanapun kau tidak akan kalah dengan seorang gadis, kan?
Pelatih Wu : benar kan? Ya kan? Aku juga berpikir begitu. Bagaimana aku bisa kalah pada seorang perempuan? Kukira runmei malu-malu dan mencari cara untuk menerimaku tanpa melukai martabatnya sendiri.
Qi-Ruifeng : ya ampun. Malu-malu? Apa itu Kepala Pelatih Yuan yang kukenal?
Zheng Lingye : lalu bagaimana setelah itu?
Pelatih Wu terlihat sangat gelisah dan meminum birnya langsung dari botol. Qi-Ruifeng menebaknya “kau kalah ya?”. Pelatih Wu berkata “karena itu aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan menang darinya”.
Qi-Ruifeng : yang benar saja Pelatih Wu, kau sungguh tidak punya ambisi sama sekali. Bagaimanapun kau tetap seorang pria. Bagaiman kau bisa membuat seorang wanita menajdi musuh bebuyutanmu?

Lagi-lagi mereka menertawakan Pelatih Wu, Pelatih Wu mengatakan “aku mungkin tidak punya ambisi, atpi aku punya martabat. Kemudian Pelatih Wu merangkul Tang Yibai dan berkata “Tang Yibai, berjanjilah kepadaku. Jangan pernah kalah dari Qi-Ruifeng (Tang Yibai melihat Qi-Ruifeng) di lomba berikutnya kau harus mengalahkan Qi-Ruifeng anak didik Kepala Pelatih Yuan dan mendapatkan catatan waktu lebih baik darinya. Aku ingin membuat semua orang tahu, bahwa aku melatih atlet yang paling menonjol dan paling hebat!”
Qi-Ruifeng dan Yangyang memberi Pelatih Wu tepuk tangan. Qi-Ruifeng mengatakan “baiklah, untuk hari ini sampai disini saja dan kalian bisa kembali pulang. Semua orang mulai pergi meninggalkan restoran.

Qi-Ruifeng bertanya kepada Yun Duo “Yun Duo, bagaimana kau pulang? Apa mau aku antar?” Yun Duo menolaknya karena dia bisa naik taksi dan harus kembali ke perusahaannya karena masih ada urusan yang harus diselesaikan hari ini juga.
Qi-Ruifeng : baiklah.
Tang Yibai : Yun Duo, ini sudah begitu larut, tidak apa-apa kau naik taksi sendirian?
Yun Duo : tidak apa-apa. Jangan khawatir.
Qi-Ruifeng : Tang Yibai, begini saja, aku akan mengurus Pelatih Wu dan kau membantu Yun Duo mencarikan taksi.
Tang Yibai : baiklah.
Yun Duo : tidak usah. Kau sangat lelah karena kompetisi hari ini, kau sebaiknay cepat pulang untuk istirahat. aku tak masalah pulang sendirian.
Kemudian Yun Duo pamit pergi kepada mereka dan pergi dari restoran.

Zheng Lingye membatu Pelatih Wu berdiri, Pelatih Wu mengatakan kepada Tang Yibai “Tang Yibai, kutanya kau ya. Kau tidak bisa mengantarnya pulang dan kehilangan kesempatan untuk berduaan bersamanya? Apa hatimu terasa sedikit hampa?”.
Zheng Lingye : Pelatih Wu, mengapa saat kau mabuk, kau bisa melihat orang lain dengan lebih akurat.
Qi-Ruifeng, Zheng Lingye dan Tang Yibai melihat satu sama lain dan sepertinya mereka punya rencana. Pelatih Wu menujuk Tang Yibai dan berkata “anak ini terlalu jelas”.
Tang Yibai : aku hanya khawatir dia sendirian naik taksi dan itu akan berbahaya bagi seorang gadis.
Pelatih Wu : baguslah kalau begitu.
Tang Yibai : Pelatih Wu, aku menyadari saat kau bergosip, jika dibandingkan dengan saat kau menceramahiku, kau lebih mirip wanita tua.
Mereka tertawa, Pelatih Wu beratanya “wanita tua? Siapa wanita tua? Kuberitahu kau ya, bicara tentang ibu. Beberapa hari ini, ibumu selalu menelponku, dia mengeluh karena dia merencanakan kencan buta untukmu, tapi kau mengabaikannya. Aku rasa ini bukan masalahku, kenapa aku merasa disalahkan untuk masalah ini?”.
Tang Yibai : Pelatih Wu, maaf ya, aku menyebabkan masalah lagi.
Pelatih Wu : tidak apa, itu hanya masalah kecil. Aku merasa kencan buta yang diatur oleh ibumu itu hanya bohongan. Sebenarnya dia hanya merindukanmu. Cari waktu untuk pulang mengunjungi ibumu, karena itu rumahmu (Pelatih Wu bernanyai tentang rindu keluarga).
Qi-Ruifeng : kau menginginkan sebuah keluarga? Tang Yibai juga menginginkan sebuah keluarga. Rumah Tang Yibai di dekat sini. Karena kompetisi hari ini sudah berakhir, biarkan dia pulang ke rumah untuk istirahat. benar kan Zheng Lingye?”
Zheng Lingye bilang “ya benar”. Pelatih Wu mengatakan kepada Tang Yibai “baik, aku akan mengijinkanmu istirahat di rumah malam ini dan kembali besok pagi”.
Tang Yibai : baiklah, terima kasih Pelatih Wu.
Qi-Ruifeng langsung menghampiri Pelatih Wu dan membantunya berjalan. Dia bicara kepada Tang Yibai dnegan pelan, dan emminta Tang Yibai untuk segera pulang ke rumahnya.

Yun Duo sedang berjalan sendirian, dia baru pulang dan baru selesai mengentri datanya di kantor. Kemudian Yun Duo membuka ponselnya, dia menulis pesan untuk yiabi.

Tang Yibai tibai di rumah. Dia memanggil ayah dan ibunya, tapi mereka tidak merespon panggilan putranya. Tang Yibai merasa kalau dirumahnya tidak ada orang, dan mungkin orangtuanya lagi pergi dan belum pulang.

Tang Yibai menyimpan tasnya dan duduk di sofa. Dia makan apel dengan sangat lahap. Tiba-tiba ponselnya berdering dan itu pesan dari Yun Duo “meskpiun aku tahu kau tidak akan bisa melihat pesanku ini, tapi aku ingin memberitahumu. Melihatmu memenangkan lomba hari ini, aku sangat bangga jadi pembawa keberuntunganmu”.
Tang Yibai membalas pesannya “terima kasih, apa kau sudah sampai di rumah dengan selamat?”
Yun Duo : aku dalam perjalanan pulang ke rumah dari perusahaan. Jangan khawatir karena aku sudah hampir tiba. Oh ya, hari ini ponselmu tidak dipegang Pelatih Wu?
Tang Yibai : hari ini aku pulang ke rumah. Jadi Pelatih Wu mengembalikan ponsel kepadaku.
Yun Duo : hari ini kau pulang ke rumah?
Tang Yibai : setelah pesta perayaan kemenangan hari ini, Pelatih Wu bilang bahwa aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Dia menyuruhku pulang ke rumah untuk berkumpul dnegan keluargaku.
Yun Duo : baiklah, ini sudah larut malam. Aku tidak akan menggangumu lagi. Istirahatlah dengan baik.
Tang Yibai membalasnya dengan emot senyum dan love di matanya. Setelah itu Tang Yibai beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya, dia langsung menuju kamar mandi.

Yun Duo baru sampai di depan pintu rumahnya, dia terlihat sangat lelah dan mulai membuka kunci  rumahnya. Saat Yun Duo masuk, dia terlihat kaget dan langsung masuk.

Yun Duo masuk ke kamarnya yang sekaligus kamar Tang Yibai, dia langusng menyimpan tas-nya dan dia akan mencoba masker pemberian Bibi Lu untuknya. Yun Duo bingung harus memakai masker yang mana dulu karena gambarnya sangat lucu-lucu, Yun Duo pun memilih salah satu masker tersebut, setelah itu dia menutup tirai kamarnya.

Yun Duo berjalan ke kamar mandi. Dia terkejut melihat Tang Yibai ada di kamar mandinya sedang mengeringkan rambut, tapi Tang Yibai belum menyadari ada orang yang masuk. Sampai akhirnya dia melihat Yun Duo dan berteriak “aaaaaahhhhhhh” mereka sama-sama berteriak, Yun Duo langusng menutup wajahnya dan pergi dari kamar mandi.

Yun Duo menutup wajahnya dan bersembunyi di balik tembok, setelah itu Yun Duo berkata “ya tuhan apa yang kulihat? Tang Yibai? Kenapa Tang Yibai bisa ada disini? Kukira Tang Yibai .....”. Yun Duo heran kenapa Tang Yibai bisa ada di kamar mandi kamarnya.

Tang Yibai keluar dari kamar mandi, dia langsung memakai bajunya dan berhadapan dengan Yun Duo. Mereka mengatakan hal yang sama “kenapa kau ada dikamarku? Ini rumahmu?”.
Kemudian Bibi Lu masuk dan bertanya “Tang Yibai, kapan kau pulang?” Yun Duo menatap Tang Yibai dengan tak percaya “tidak mungkin”. Tang Yibai bertanya kepadaa Yun Duo “apa kau penyewa baru yang pindah kesini itu?”.
Yun Duo : kau anak yang tidak berbakti yang tidak pernah pulang itu?
Tang Yibai terlihat kesal dan marah kepada ibunya, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ibu mendahuluinya “aku lupa memperkenalkannya padamu. Dia anak lelakiku yang setengah ikan, yang terobsesi dengan berenang”.
Yun Duo : Tang Yibai.
Bibi Lu : iya. Tang Yibai, nona cantik ini adalah penyewa baru di rumah kita.
Tang Yibai : Yun Duo.
Ibu : bagaimana kau bisa tahu namanya Yun Duo.
Mereka terdiam, tapi ibu Tang Yibai merasa kalau mereka sudah sangat akrab “apa kalian berdua sudah saling kenal?” Tang Yibai dan Yun Duo tidak menjawab pertanyaanya dan malah berdiam diri saling menatap satu sama lain.

Tang Yibai dan Yun Duo sedang duduk di ruang tengah, mereka tidak melakukan perbincangan apapun dan hanya duduk kebingungan. Yun Duo heran kenapa dia tidak menyadari bahwa itu rumahnya Tang Yibai, padahal “erbai” dan “Tang Yibai” itu sudah jelas mendekati nama mereka.
Tang Yibai menelpon Qi-Ruifeng dan marah-marah kepadanya “Qi-Ruifeng, kau senang menyiksaku, ya? Kau menyewakan kamarku kepada Yun Duo, apa kau gila?”.
Karena saking kerasnya suara Tang Yibai, Qi-Ruifeng menjauhkan telpon dari telinganya dan berkata “bukan begitu, Tang Yibai. Kau bilang apa? Aku tidak mengerti”.
Tang Yibai : jangan pura-pura bodoh. Kau yang merencanakan semua ini, kan? Pantas saja kau terus mendesak pelati Pelatih Wu untuk memberiku libur hari ini.
Qi-Ruifeng: apa maksudmu aku merencanakan semua ini? Tang Yibai, ini Cuman kebetulan. Ini semua telah diatur oleh alam semesta. Tunggu bagaimana kau tahu bahwa Yun Duo tinggal dirumahmu? Jangan bilang, saat dia tidur, kau diam-diam merangkak ke tempat tidurnya?
Tang Yibai : Qi-Ruifeng, tunggulah nanti, akan kuhabisi kau.
Qi-Ruifeng : berhubung kau tidak suka ada Yun Duo di rumahmu, kalau begitu beritahu saja ibumu. Dengan begini kau bisa mengusir Yun Duo, kasihan sekali Yun Duo ini. langit begitu gelap, anginya pun sangat kencang. Dia akan menjadi tunawisma lagi.
Tang Yibai : Qi-Ruifeng. Baiklah, masalah ini sudah berlalu. Dan juga, bisakah kau tidak terus berkomunikasi dengan ibuku di masa mendatang?
Qi-Ruifeng: baik baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau katana, apa kau senang? Sudah dulu ya byeeee...
Tang Yibai belum selesai bicara dengan Qi-Ruifeng, tapi Qi-Ruifeng malah menutup telponnya. Tang Yibai sangat kesal dengan Qi-Ruifeng.

Setelah Tang Yibai selesai menelpon,. Yun Duo meminta maaf karena dia tidak tahu bahwa tempat yang dia sewa adalah rumah Tang Yibai. Tang Yibai mengatakan “tidak masalah. Lagipula ibuku tidak salah. Sepanjang tahun aku selalu latihan. Aku tak bisa tinngal dirumah terlalu lama, jadi sia-sia saja kamarku selalu kosong. Dan aku senang bisa membantumu”.
Tang Yibai tersenyum malu dan berterima kasih kepada Tang Yibai “tapi, dimana kau akan tidur malam ini? karena aku menempati kamar ini”.

Saat Tang Yibai akan mengatakan sesuatu, tiba-tibai ibunya datang dan meminta Yun Duo untuk tidak mengkhawatirkannya. Mereka langsung berdiri. Ibu berkata kepada Tang Yibai “apa kau pulang kerumah hanya untuk memeriksa, apakah kau sudah menjengkelkan ibumu sampai mati?” Yun Duo terdiam dan terus memperhatikan Tang Yibai.
Tang Yibai : aku pulang karena kompetisi sudah dekat dan mudah dilakukan.
Ibu mengatakan kepada Yun Duo “kau dengar dia, kan? Mudah. Dia pulang karena mudah. (kembali ke Tang Yibai) jadi pada dasarnya kau pulang bukan karena untuk bertemu aku,kan?”.
Tang Yibai : iya. Bukankah barusan bilang itu mudah?
Ibu : baiklah. Oke. Sangat mudah. Itu sangat mudah sehingga tidak masalah. Jadi pergi dari pandanganku sekarang juga. Aku tidak ingin melihatmu bahkan satu menitpun. Jika kau tidak keluar, entah kau tidur di sofa atau tidur di balkon. Jangan pernah berpikir untuk berebut kamar dengan Yun Duo.
Yun Duo : Bibi Lu, itu bukan ide bagus. Aku tidak apa-apa dan bisa tidur di tempat temanku.
Bibi Lu : Yun Duo, jangan pergi. Kau akan tetap tinggal disini. Jangan beri dia simpati. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri untuk ini. sejak dia masuk universitas, beberapa kali dia pulang lebih sedikit dari jumlah 10 jariku. Jika orang luar tidak tahu, mereka mungkin berpikir bahwa aku cuman punya satu anal yaitu erbai.
Tang Yibai hanya tersenyum saja dan ibunya menekankan Tang Yibai untuk tidur di sofa dan pergi begitu saja. Bibi Lu berbalik lagi dan berkata kepada Yun Duo “oh iya, Yun Duo. Aku lupa memberitahumu, benda ini (uap) sangat menyegarkan untuk wajah dan sangat nyaman, cobalah Yun Duo. Yu, kau jangan pergi dan tetap tinggal disini”. Tang Yibai tersenyum melihat tingkah laku ibunya dan meminta Yun Duo untuk duduk kembali.

Tidur Tang Yibai sangat pulas meski ia tidur di sofa. Dan ternyata Yun Duo duduk di sofa memperhatikan Tang Yibai tidur. Yun Duo tersenyum melihat Tang Yibai tidur dengan pulas.

Yun Duo berbisik membangunkan Tang Yibai, akhirnya Tang Yibai mendengarnya dan langsung bagun. Setelah Tang Yibai duduk, Yun Duo meminta Tang Yibai untuk kembali ke kamar dan tidur di kamarnya.
Tang Yibai : bagaimana aku bisa melakukannya? Kau dnegan ibuku, kan? Dia melarangku berebut kamar denganmu.
Yun Duo : Bibi Lu hanya bercanda.
Tang Yibai : ini bukan hari pertamaku sebagai putranya. Aku tahu kapan dia serius atau tidak. Dia suka melihatku tersiksa olehnya.
Yun Duo : omong-omong saat kau tidak dirumah. Aku selalu mendengarnya berkata “saat kau pulang nanti, dia akan membelikanmu makanan enak”.
Tang Yibai : dia membeli banyak bahan makanan agar dia bisa memberikan erbai banyak makanan. Benarkan, erbai? (melihat erbai) kau paling disayangi di rumah kita.
Mereka pun tersenyum sambil melihat erbai.

Setelah itu, Yun Duo mengambil bantal Tang Yibai, Tang Yibai bertanya “apa yang kau lakukan?”. Dengan gelisah Yun Duo berkata “aku merasa kau seharusnya tidur di kamar. Kau akan segera bertanding, tidur itu penting”.
Tang Yibai : tak penting dan ini hanya ssatu malam. Jangan mencemaskan itu.
Yun Duo : bahkan satu malam pun tidak baik. Bagaimana jika lehermu menjadi kaku?
Tang Yibai : sungguh jangan khawatir.
Yun Duo : kubilang tidak, ini tidak baik.
Tang Yibai : kubilang tidak apa-apa.
Tang Yibai merebut bantalnya dan menariknya ke atas, Yun Duo berusaha mengambilnya, tapi Yun Duo kesusahan karena dia lebih pendek dari Tang Yibai.
Yun Duo : berhenti main-main denganku. Hebatnya kau tinggi jadi bisa menggangguku.
Tang Yibai : itu benar. Aku tinggi jadi aku ingin mengganggumu. Lalu kenapa?
Yun Duo makin kesal dan naik ke atas kursi tapi tetap tidak bisa mengambilnya. Mereka terus kejar-kejaran di aatas kursi dan akhirnya Tang Yibai melemparkan bantal tersebut dan mengambilnya lagi. Saat Yun Duo hampir mendapatkan bantal itu, dia tiba-tiba terpeleset dan terjatuh di tubuh Tang Yibai.
Mereka kaget dan terpaku saling memandang. Erbai dokus melihat kedekatan mereka. Tang Yibai seperti ingin mengatakan sesuatu dan akhirnya Yun Duo sadar dan mengedipkan matanya.

Saat Tang Yibai akan beranjak, dia melihat ibu dan ayahnya da di hadapan mereka. Mereka pun langsung berdiri. Ayahnya bilang “maaf maaf, akmi tidak melihat apa-apa, jangan pedulikan kami. Teruskan saja”.
Ibu : kami tidak melihat apa-apa. Kalian bisa melanjutkan. Baru saja mulai panas disini. Jangan iklan dulu.
Yun Duo : paman Bibi Lu, ini tidak seperti yang kalian pikirkan.
Tang Yibai : itu benar, kami tidak melakukan hal seperti yng kalian pikirkan.
Ibu : apa yang kami pikirkan? Sumiku Fey sayang. Tidakkah kau pikir logika mereka tidak dapat dimengerti? Kami tida mengatakan apa-apa. Bagaimana kalian tahu apa yang kami pikirkan?
Yun Duo terlihat malu dan bersembunyi di balik Tang Yibai. Ayahnya bilang kepada ibu “kecuali mereka memikirkan hal yang sama dengan kita”.
Ibu : tepat.
Tang Yibai : berhenti membuat keributan. Kami tidak seperti yang kalian pikirkan, kami hanya teman baik.
Yun Duo : iya kami hanya teman baik.
Ibu : teman baik?
Mereka serempak mengangguk “Ya”. Ibu bilang “aku mengerti, teman baik”. Ibu dan ayah Tang Yibai meminta mereka untuk melanjutkan dan tidak tidur terllau larut. Ayah mengajak istrinya untuk segera pergi ke kamar dan tidak mengganggu mereka lagi. Yun Duo duo merasa sangat malu, dan akhirnya mereka tersenyum dengan keselah pahaman orangtua Tang Yibai.

Tang Yibai masuk ke kamar dan merasa kalau kesalahpahaman yang baru saja terjadi, itu sangat buruk. Yun Duo mulai menyalahkan Qi-Ruifeng dan sangat kesal “Qi-Ruifeng, kenapa dia membawaku ke rumah Tang Yibai?".
Yun Duo melihat sekeliling kamarnya dna berkata “jadi ini tempat dimana Tang Yibai tinggal dulunya” dia mencoba duudk di meja belajar Tang Yibai dan menulis sesuatu. Yun Duo juga membaca buku yang biasa dibaca Tang Yibai dulu. Kemudian Yun Duo melihat sebuah foto keluarga saat Tang Yibai kecil. Yun Duo mengukur tinggi badanya yang sangat jauh berbede dengan Tang Yibai.
“ini kamar dimana Tang Yibai tumbuh dewasa. Dan sekarang aku tinggal di kamar ini, beberapa hari ini, aku telah tinggal di dalam hidupmu. Aku berjalan melalui lorong yang kau lalui, tinggal di kamar yang dulu kau tempati”.

Yun Duo melihat sekeliling kamarnya dan mengahayal saat Tang Yibai dulu tinggal di kamar yang dia tempati. Yun Duo bersandar di meja belajar, masih dalam halusinasi Yun Duo.
Tang Yibai datang dan terlihat lelah, dia bersandar di meja belajarnya, berbaring di tempat tidur yang sama dengannya.
“memandang langit-langit yang sama denganmu. Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa dekatnya jarak kita yang sebenarnya”.
Tang Yibai bangun dan berjalan ke kamar mandi. Yun Duo mengikutinya dan melihat Tang Yibai sedang mengeringkan rambutnya, Yun Duo terpaku menatapnya. Tang Yibai berbalik dan tersenyum melihat Yun Duo.