Advertisement
Advertisement
Episode 20 Part 2

Woon Jae dan Hyun sedang dalam perjalanan mencari loksai ayahnya saat ini, Woon Jae terlihat sangat khawatir takt terjadi sesuatu dengan ayahnya. Hyun gak tegak melihat Woon Jae seperti itu.

Eun Jae dan Jae Geol berjalan menuju mobil, kemudian Jae Geol membukakan pintu untuknya, Eun Jae kaget dengan sikap Jae Geol, dan dia pun bengong sekejap, Jae Geol mengurnya dan meminta dia untuk masuk ke dalam mobil, setelah masuk, Eun Jae sangat fokus dengan ponsel sehingga dia lupa tidak mengenakan sabuk pengamannya. Jae Geol pun memintanya untuk memakai sabuknya.
Jae Geol : aku bisa memasangkannya jika kamu ingin sedikit romantis.
Eun Jae tidak mengatakan apapun, dia langsung menatap Jae Geol dan memakai sabuk pengamanya. Mereka pun memulai perjalannya.

Woon Jae dan Hyun tiba di loksai GPS ayahnya, mereka langsung berlari kencang.

Ketika mereka membuka pintu, mereka langsung diperlihatkan dengan ayah Woon Jae tergeletak tak sadarkan diri, Woon Jae menangis dan langsung menghampirinya. Sepertinya itu sebuah pemakaman karena banyak karangan bunga dan ayahnya juga tergeletak dengan membawa karangan bunga.

Hyun memeriksa mata dan Nadi ayah Woon Jae, Won Jae sangat khawatir “dia baik-baik saja? Bangunlah ayah...” Hyun fokus mendengar nafas dan nadinya. Dan benar itu daalah tempat pemakaman istrinya.

Eun Jae dan Jae Geol sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jae geol memulai perbincangan dengan Eun Jae.
Jae Geol : kamu suka memancing tadi?
Eun Jae : entahlah.
Jae Geol : dia (ayah) tidak memancing dengan sembarang orang. Dia sangat berhati-hati memilih teman memancingnya.
Eun Jae : apa kriterianya?
Jae Geol : keluargaku atau kawan seperjuangan
Eun Jae : tapi, aku bukan keduanya.
Jae Geol : kurasa kamu keduanya. Sepertinya ayahku menginginkan kamu menjadi keluarga dan kawan seperjuangannya.
Eun Jae kaget dan langsung menatapnya. Tanpa basa basi Jae Geol berkata “bagaimana jika kita menikah?” Eun jae tidak menaggapinya. Jae Geol pun melanjutkan pembicaraannya “Kami membutuhkan pewaris rumah sakit, tapi bidangku tidak tepat. Kurasa dia ingin menyerahkannya kepadamu sebagai menantunya, apa kamu tertarik?” dengan polosnya dan tanpa berpikir Eun Jae menyetujuinya “tentu”.
Jae Geol : semudah itu?
Eun Jae : untuk apa mempersulitnya? Aku akan mendapatkan rumah sakit.
Jae Geol : Ashhhh... kamu tidak menyukaiku?
Eun Jae : tidak, aku menyukaimu.
Jae geol (kaget dengan jawabannya) : aku tahu kamu tidak benar-benar menyukaiku.
Eun Jae : jika kamu tahu, fokuslah mengemudi.
Jae Geol memulai perbicangannya lagi dengan tema baru yaitu “Hyun”.
Jae Geol : bagaimana denga Hyun ? apa kamu menyukainya?
Eun Jae : tidak. Itu ....
Jae Geol menatapnya dan bilang “ini menarik” Eun Jae tidak melanjutkan pembicaraannya dan Jae Geol pun juga tidak membahasnya lagi dan fokus mengemudi.

EUn Jae dan Jae Geol baru tiba di rumah sakit, mereka tiba bersamaan dengan mobil ambulan yang membawa pasien. Jae Geol bilanhg “aku merasa sedikit termotivasi” Eun Jae tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Jae Geol melanjutkan “aku suka kerumitan. Terutama jika pihak wanita sangat keras kepala”.

Saat ambulan dibuka, Eun Jae melihat ke arah ambulan, dia seperti mengenali orang yang di blangkar dan yang mengantarnya.

Eun Jae mulai yakin kalau dia mengenalinya, (pasti dia langsung mengenalinya orang yang turun dari ambulan adalan Woon Jae dan ayahnya) Eun Jae langsung berlari menghampirinya. Jae Geol bingung dan langsung mengikutinya. Eun Jae berteriak “Woon Aje ...”.
Woon Jae : Nona...
Petugas : dia harus masuk.  Suhu tubuhnya 38.5 derajat dan organ vitalnya tidak setabil. Mereka pun membawa ayahnya masuk ke rumah sakit, tapi Eun Jae masih berdiam diri.

Setelah mereka membawa ayahnya masuk, Hyun melihat Eun Jae dari kejauhan. Jae Geol bertanya “dia memanggilmu kakak, apa dia adikmu?” Eun Jae tidak menjawabnya dan langsung masuk. Jae Geol bertanya “siapa pasiennya?” sayangnya Eun Jae tidak menjawabnya. Jae Geol pun semakin penasaran.

Ayahnya dibawa ke ruang tindakan. Mereka memeindahkan pasien ke bed rumah sakit. Dokter Kang sibuk memanggil pasien “pak ? pak? namu pasien tidak meerspon sedikitpun. Dr. Kang mengatakam bahwa penyakit kuningnya sudah dangat parah, dan meminta perawat untuk memeriksa suhu tubuhnya. “38,5?”.
Dr. Kang : ambulkan ultrasonografi dan minta pemeriksaan dengan pindai CT.
perawat : ya.
Dr. Kang : cari penyebab penyakit kuningnya.

Hyun dan Woon Jae datang ke ruang tindakan. Woon Jae menangis melihat kondisi ayahnya. Hyun memperlihatkan surat diagnosis pasien waktu di tiongkok.
Hyun : diagnosisnya dari tiongkok. Menurut diagnosisnya, dia mengidap kanker saluran empedu.
Dr. Kang kaget “apa?” dia langsung melihat hasil diagnosisnya sendiri dan merebutnya dari Hyun. Eun Jae belum berani mendekati ayahnya. Dia hanya melihatnya dari pintu dan juga mendengar apa yang mereka bicarakan tentang ayahnya.
Dr. Kang : kalau begitu, penyakit kuning dan septisemianya disebabkan oleh tumor yang menyubat sistem empedunya?

Dr. Kang langsung melihat Eun Jae sambil menunjukkan kertas diagnosisnya dan bertanya “kamu tahu soal ini?” Eun Jae tak menjawabnya. Woon Jae terus menangis dan berkata “nuna... apa yang akan terjadi kepadanya?” Eun Jae malah pergi begitu saja. Hyun memintanya untuk menunggu ayahnya dan Dia langsung pergi untuk menemui Eun Jae.

Dr. Kang memeriksa kembali ayah Eun Jae dan berkata “ini gawat” Woon Jae tak henti menangisi ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri.

Hyun mengikuti Eun Jae sambil terus memanggilnya “dokter” namun Eun jAe tak menghiraukannya, dia hanya fokus dengan pikirannya. Eun jAe memasuki ruanganya, Hyun mencoba mengikutinya ke dalam namun Eun Jae malah menutupnya. Dia tidak ingin di ganggu siapapun.
Di luar Hyun bingung harus berbuat apa, disisi lain Eun Jae sedang menangis seperti sedang menyesali sesuatu, dan dia juga sangat khawatir terhadap ayahnya, namun dia bisa menutupinya dan terlihat tegar di depan semua orang, padahal yang di rasakanny saat ini, itu sangat menyakitkan.

Saat dokter kang sedang memeriksa jantung pasien. Tiba-tiba jantung ayah Eun Jae berhenti, dr. Kang langsung meminta perawat untuk mengambil defibrilator, Woon Jae semakit takut dan berteriak “ayah....” Hyun baru sampai di ruangan, dia juga melihat apa yang terjadi dengan ayah Eun Jae.

 Hyun pun  langsung masuk dan membawa Woon Jae keluar.

Dr. Kang mencoba mengejutkan detak jantung pasien. Woon Jae tidak mau menjauh dari ayahnya, dia terus memaksa Hyun untuk masuk, Dia melihat ayahnya dari pintu dan terus berteriak “ ayah....” Hyun menenangkan Woon Jae dan memeluknya.

Dr. Kang melakukan tindakan lagi kepada pasien, Woon Jae masih sangat ketakutan. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya usaha dokter kang tidak sia-sia, detak jantung pasien kembali normal. Dokter Kang sangat lega. Woon Jae menjadi lemas karena senang detak jantung ayahnya kembali.

Akhirnya Eun Jae kembali ke ruang tindakan, sia langsung mendekati ayahnya dan bilang “ambilkan ultrasonografi”
Dr. Kang : dokter Song...
Dr. Song : demam dan penyakit kuningnya adalah tanda-tanda kanker saluran mempedu akut. Kita periksa, lalu lakukan terapi salir empedu.
Dr. Kang : akan kamu lakukan sendiri?
Dr. Song : ya (Woon Jae dan Hyun masih ada disana dan melihat apa yang dikatakan Eun jAe).
Dr. Kang : kita bisa meminta bantuan pakar radiologi.
Dr. Song : jika tidak melakukannya sekarang, semua organnya akan berhenti berfungsi.
Dr. Song meminta perawat untuk mengambilkan alatnya, dr. Kang tidak bisa berbuat apa-apa kalai dr. Song sudah berkata begitu dan sangat kerasa kepala tidak bisa dicegah oleh siapaun.

Jae Geol datang dan bertanya “apa yang terjadi?” Hyun pun menjelaskan bahwa mereka akan memasuka kateter ke saluran empedunya. Jae Geol kaget dengan apa yang akan dilakukan Eun Jae.
Jae Geol : itu ayahnya. Dia akan melakukannya sendiri? Dia memperhatikan Eun Jae yang sedang memperhatikan kodisi ayahnya.

Eun Jae akan memulai tindakannya, dia mulai mengoleskan jel ke perut yang akan dia bedah untuk memasang kateter ke saluran empedu. Dia mengatakan bahwa infeksinya disebabkan oleh timor yang menyumbat sistem empedu.
Dr. Song : kita masukkan kateter disini (sambil terus menujuknya dengan alat yang dia pegang, yang lain pun fokus melihat monitor yang di intruksikan Eun Jae) untuk mengeluarkan cairan emepdu yang lebih.
Dr. Kang : ini akan mengobati septisimianya.
Dr. Song : ya.
Dr. Kang : dia ayahmu. Benarkah kamu sanggup?
Dia hanya diam dan terus mencari titik untuk di bedah di perut ayahnya, setelah dia menemukan titik temunya dia berkata “mari kita mulai”

Saat Eun Jae membedah ayahnya, Woon Jae, Jae Geol dan Hyun menyaksikan operasinya yang sedang berjalan. Eun Jae sangat fokus menyelamatkan sang ayah yang di temani dr. Kang.
Eun jAe mulai memasukan kateter ke dalam empedu ayahnya dengan tangannya sendiri, akhirnya Eun Jae bisa mengeluarkan cairan tersebut.

Setelah selesai operasi, Woon Jae langsung menghampiri kakaknya “nuna...”
Eun Jae : masuklah...
Woon Jae pun masuk melihat kondisi ayahnya setelah operasi, Hyun pun ikut masuk ke dalam. Saat Eun Jae pergi, Jae Geol terus memperhatikannya dan mulai pergi mengikutinya.

Ketika Eun Jae berjalan menuju ruangannya, tiba-tib adaa perawta yang menghampirinya dan memberitahu bahwa ada panggilan dari ruang operasi “ada operasi darurat”.
Eun Jae : baiklah, aku akan segera naik ke atas.
Eun Jae benar-benar tak kenal yang namanya lelah. Sampai-sampai dr. Kang heran dengan dr. Song, tiba-tiba Jae Geol bilang “tidak bisakah dia bersitirahat darimoperasi hari lain hari ini? bisakah mereka meinta dokter lain?
Dr. Kang : tentu saja bisa.
Jae Geol : lalu, kenapa tidak?
Dr. Kang : dr. Song tidak mau, dia sendiri yang mengatakannya.
Dr. Kang pamit pergi duluan, Jae geol tak habis pikir dengan apa yang dia lakukan sehingga tidak memperhatikan istirahatnya.

Eun Jae sedang mensterilkan tanganya, sebelum masuk ruang operasi dia terdiam dan memejamkan matanya sejenak.

Woon Jae menemani ayahnya di ruangan, dia sedang mengompres ayahnya denga tangan kirinya. Setelah itu dia menyelimuti ayahnya dengan penuh kasih sayang. Kemudain dia memegang tangan ayahnya, dia merasa tangan ayahnya bergerak dan mengepalkan ke tangannya, dia pun mulai melihatnya dan kaget campur bahagia kalau ayahnya sudah siuman, dia meyakinkannya kembali dengan bertanya “ayah sudah siuman?” ayahnya pun mengangguk “ya”.
Woon Jae : astaga... kukira ayah akan meninggal...
Ayah : dimana ayah?
Woon Jae : kita ada di rumah sakit tempat kakak bekerja.
Setelah mendengar itu, ayah langsung mengepal erat tangan Woon Jae sambil memejamkan matanya. Woon Jae pun kaget dengan tingkah ayahnya.

Eun Jae baru keluar dari ruang operasi., dia sangat kelelahan. Tiba-tiba Jae Geol datang “kerja bagus” dia juga memberitahu Eun Jae bahwa ayahnya sudah siuman “demamnya turun dan organ vitalnya suda stabil” Eun Jae hanya mengangguk dan lanjut berjalan.

Jae Geol memberitahu ruangannya sambil membalikkan badan Eun Jae dan berakat “dia ada di ruang baru. Di ruang VIP”
Jae Geol : dibandingkan rumah ssakit besar yang ada doi seol, itu tidak begitu mewah.
Eun Jae : itu tidak perlu.
Jae Geol : tentu saja perlu. Ingatlah semua nyawa yang telah akmu selamtkan. Salah satunya istri direktur rumah sakit ini. kamu pantas menerima keistimewaan ini.
Setelah selesai bicara Jae Geol mebalikan arah Eun Jae dan membawanya ke ruangan VIP dimana ayahnya di rawat.

Hyun sedang melamun sendirian di lorong, Woon Jae berjalan, dia seperti sedang memcari seseorang. Ternyata dia mencari Hyun dan memanggilnya “kak Hyun....”

Woon Jae menghampirinya dan bertanya “kenapa kamu disini? Aku mencarimu kemana-mana.
Hyun : sudah makan belum (beuh perhatiannya kepada calon adik ipar hehe)
Woon Jae : sudah. Aku menikmatinya. Terima kasih.
Hyun mengusap pundah Woon Jae dengan penuh kasih sayang. Woon Jae mangatakan bahwa ayahnya ingin bertemu dengan Hyun sebentar saja. Hyun kaget. Kenapa dia ingin bertemu dengannya.

Akhirnya Hyun menemui ayah Eun Jae. Sebelum masuk ruangan Hyun mengetuk pintu terlebih dulu. Ayah Eun Jae pun langsung bangun meski susah. Saat Hyun masuk, dia langsung membantunya dan menyapa ayah Eun Jae.
Ayah Eun Jae : Woo Jae memberitahuku, dokterlah yang menyelamatkan hidupku.
Hyun : tidak, aku tidak banyak membantu.
Ayah Eun Jae : dokter, bagaimana caraku untuk membalas kebaikan dokter?
Hyun : tidak perlu. Jangan berkata begitu. Tida perlu sekaku itu kepadaku. Pak.
Ayah Eun Jae : bolehkah itu?
Hyun : Ya.
Ayah Eun Jae : aku ingin bertemu denganmu, karena ingin meminta bantuanmu, tanpa sepengetahuan Eun Jae.

Hyun mulai bengong dan tidak mengerti apa maksudnya. Ayah Eun Jae memegang tangan Hyun sambil menangis “karena sudah menyelamatkan nyawaku. Bisakah kamu membantuku sekali lagi?”
Hyun : apa maksud bapak?

Eun Jae keluar dari lift, saat berjalan, seorang perawta memberitahu Eun Jae bahwa ayahnya sudah siuman dan kondisinya mulai stabil, Eun Jae pun tak lupa berterima kasih kepada perawta tersebut.

Eun Jae berjalan menuju ruangan ayahna. Saat di depan pintu, Eun Jae mendengar ayahnya bicara “aku mengikuti program asuransi proteksi kanker sebulan lalu, jika aku di diagnosis terkena kanker, 90 hari setelah mendaftar, aku akan dibayar 15.000 dolar”. Eun Jae berhenti di depan pintu dan terus mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya.
Ayah : aku mempunyai 10 rencana. Sebelum 90 hari, jangan sampai ada catatan di diagnosis itu.
Hyun : aku tidka mengerti maksud bapak.
Ayah : fakta bahwa aku di diagnosis terkena kanker hari ini harus dihapuskan.
Hyun : bapak, memintaku....

Tiba-tiba Eun Jae masuk dan berkata “dia memintamu untuk meerkayasa hasil medisnya” Hyun dan ayahnya kager mendenra ada Eun Jae yang tiba-tiba masuk dan mejelaskan apa yang dimaksud ayahnya.
Ayah : jangan kemari...
Eun Jae meminta Hyun untuk keluar dan tidak mendengarkan omong kosong ayahnya. Eun Jae semakin marah dan terus mengulangi perkataannya “keluarlah” kepada Hyun.

BERSAMBUNG KE EPISODE 21 PART 1 SELANJUTNYA>>

<< SINOPSIS HOSPITAL SHIP EPISODE 20 PART 1 SEBELUMNYA