Advertisement
Advertisement
Episode 20 Part 1

Eun Jae sedang mengeluarkan beberapa koper Nona Choi dari sebuah ruangan, tiba-tiba Ah Rim dan perawat Pyo melihatnya bersikerasa mengeluarkan koper tersebut.
Ah Rim : bukankah ini barang Nona Choi?
Eun Jae : dia tidak akan bekerja disini, dia bilang akan mengutus orang untuk mengurus barang-barangnya.
Perawat Pyo : ashhhh... tangan dan kakinya masih berfungsi, tidak bisakah dia mengambilnya sendiri? Kenapa dia mengutus orang lain?

Ah Rim merasa bingung dengan semua ini “seungguh aneh” Perawat Pyo menyelanya “ada apa? Jangan bilang....” AH Rim terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa dia ungkapkan dan berkata “tidak mungkin” sambil menggelengkan kepalanya. Perawat Pyo terus menggodanya “ada apa....???”
Ah Rim : mungkinkah Nona Choi mengidap Leukimia?
Eun Jae hanya diam saja, namun perawat Pyo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ah Rim “tidak mungkin” AH Rim pun mengatakan “lalu kenapa Dokter Kwak sering mencari tahu tentang Leukimia? Dia sering mencari tahu sejak Nona Coi di rawat di rumah sakit” Eun Jae pun mulai berpikir apa yang sebenarnya terjadi. AH Rim terus berkata “semua ini menjadi sangat aneh, dulu dia memaksa untuk tinggal di asrama kita, kini dia tiba-tiba pindah”.
Perawta Pyo : sebenarnya kamu ada benarnya juga. Dia mulai percaya dengan apa yang dikatakan Ah Rim.

Hyun mendapat panggilan dari seseorang, ternyata itu panggilan dari dokter yang menangani Nona Choi, dokter itu mengatakan bahwa Nona Choi menolak untuk melakukan pemeriksaan ulang, kemudian dokter itu menyuruhnya pulang karena dia mengiira kalau Nona Choi cemas. Hyun semakin khawatir dengan Nona Choi.
Hyun : kamu sudah memberikan diagnosismu?
Dokter : itu berdasarkan rekam medis yang dia bawa. Aku harus memeriksa dia untuk mengatur penanganannya. Jika bukan transplantasi, kemoterapi itu penanganan terbaik.
Hyun mengakhiri panggilannya bersama dokter itu, karena dia akan menghubungi Nona Choi. Hyun pun mulai menghubungi Nona Choi namun Nomer Nona Choi tidak dapat dihubungi, dia terus menghubunginya namun sia-sia. Tiba-tiba ponselnya berdering. Di mengira panggilan tersebut dari Nona Choi, namun perkiraannya itu salah. Ternyata yang menelponnya adalah Woon Jae adik dari Eun Jae.

Setelah mendapat tetelpon dari Woon Jae, Hyun langsung berlari keluar dari kamarnya, kebetulan Hyun melihat Eun Jae dan langsung memanggilnya “Eun Jae” Eun Jae pun berbalik ke arahnya, namun Hyun tidak mengatakan apapun karena dia teringat perkataan Woon Jae “jangan beritahu kakaku untuk sementara”
Eun Jae : ada apa?
Hyun : tidak ada apa-apa, kamu mau kemana ini akhir pekan.
Eun Jae : bekerja di UGD.
Hyun : hati-hati di jalan.
Eun Jae pun pergi bekerja, namun Hyun terlihat masih kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.

Saat dalam perjalanan menuju UGD dia sangat buru-buru sekali dan Eun Jae menerima panggilan dari seseorang. Orang itu menanyakan keberadaannya saat itu. Eun Jae mengatakan bahawa dirinya masih di asrama. Orang itu mengajak Eun Jae untuk makan siang bersama (siapa ya kira-kira orang yang menelon Eun Jae, terdengar dari suaraya, dia seperi orang yang lebih tau darinya). Eun Jae mengatakan kalau hari ini jadwalnya dia bekerja di UGD.
Penelpon : santai saja, aku sudah mengirimkan mobil kesana (penelpon itu langsung mengakhiri panggilannya tanpa mendengar jawaban dari Eun Jae, apakah dia bersedia atau tidak)
Eun Jae terlihat heran dengan orang yang barusan menelponnya, dan pastinya dia bertanya-tanya tentang apa yang orang itu bicarakan barusan.

Eun Jae sudah berada di dalam mobil jemputannya, dia dibawa ke suatu tempat entah dimana itu, setibanya, disana sudah ada pengawal yang menunjukkan arah bahwa Eun Jae harus naik kapal. Eun Jae semakin bingung.
Eun Jae : haruskah aku naik kapal juga?
Pengawal : tempatnya tidak jauh, hanya 10 menit perjalanan.
Meski Eun Jae trelihat Kesal, tapi dia tetap mengikuti petunjuk dari pengawal tersebut.

Eun Jae menaiki sebuah kapal dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, dia menikmati perjalanannya namun dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil melihat tiap sudut tempat itu dan dia sepertinya mengingat moment di tempat itu, akhirnya Eun Jae turun dari kapal, pengawal itu mengulurkan tangannya untuk membantu Eun Jae turun dari kapal namu Eun Aje menolaknya. Tiba-tiba pengawal itu menerima telepon dari atasannya, dia pun memebritahu bahwa Eun Jae baru turun dari kapal.

Eun Jae mulai berjalan sendirian tanpa di temani pengawal tadi, saat melihat air mancur yang sangat indah tiba-tiba Eun Jae mengingat moment bersama Hyun, dia pernah mendatangi tempat itu bersama Hyun, waktu itu Hyun dan Eun Jae terlihat sanat akrab dan menikmati perjalanannya. Namun dia tidak luput dalam ingatan masa lalunya, dia pun akhirnya melanjutakn perjalanan.

Hyun dan Woon Jae bertemu di sebuah kafe, Hyun menanyakan apa yang tadi dikatakan Woon Jae di telpon “benarkah ayahmu menderita kanker?” Won Jae terlihat khawatir dan menjawabnya “sepertinya begitu”. Hyun penasaran kenapa Woon Jae bisa menyimpulkan kalau ayahnya menderita kanker “darimana kamu tahu?” Woon Jae pun langsung mengambil sebuah surat yang berisi diagnosis tentang penyakit ayahnya, dia pun memperlihatkannya kepada HYUn “ini diagnosis yang dia dapatkan di tiongkok, bahasanya mandari dan inggris jadi aku tidak terlalu yakin” Hyun melihat hasil diagosis tersebut. Dia terlihat begitu fokus.
Woon Jae : bagaimana hasilnya? Apa itu tidak benar seperti dugaanku? Apa kondisinya buruk?
Hyun : dimana dia sekarang ?
Woon Jae semakin khawatir : seburuk apa kondisinya?

Eun Jae menaiki tangga, tiba-tiba Jae Geol muncul disana, Eun Jae pun kager kenapa dia bisa ada di tempat yang sama, dia pun langsung mempertanyakannya kepada Jae Geol  “kenapa kamu bisa ada disini?”
Jae Geol : apa kamu lupa kalau aku adalah putranya? (Eun Jae semakin tidak mengerti dengan semua teka-tekinya) ini acar kumpul keluarga. Dan kamu adalah tamu kami.
Eun Jae terlihat bingung dan Jae Goel bertanya setelah melihat mimik muka Eun Jae yang berubah “apa kamu merasa tertekan?” Eun Jae tidak menjawabnya, dia hanya terdiam dan menghembuskan nafas.
Jae Geol : langkah berikutnya bisa membuatmu lebih tertekan. Jae Geol pun mengajak Eun Jae untuk mengikutinya.

Jae Geol membawa Eun Jae ke tepi danau, disana sudah ada ayahnya yang sedang memancing. Setibanya disana Jae Geol langsung memanggil ayahnya “ayah” ayah pun langsung menoleh dan berkata “halo” Eun Jae pun juga menyapanya.

Ayah Jae Geol meminta Eun jae untuk mendekatinya. Eun Jae kaget mendengar perintah ayah Jae Geol. Ayah meminta Jae Geol untuk meninggalkan mereka berdua di tepi danau. Jae Geol pun mengikuti apa yang dikatakan ayahnya. Jae Geol bilang kepada Eun Jae “apa kubilang, kamu akan lebih tertekan, semangat, semoga beruntung”.

Eun Jae diajak memancing oleh ayah Jae Geol, ayah Jae Geol bertanya “kamu pernah memancing?” Eun Jae ternyata belum pernah memancing sebelumnya, dan ini pertama  kalinya dia memancing. Ayah Jae Geol memintanya untuk mencoba mancing, karena menurutnya mancing adalah hobi yang paling sempurna untuk seorang dokter bedah.
Ayah Jae Geol : bagus jika sesekali melamun dan tidak memikirkan apapun (Eun Jae hanya terdiam? Apa kamu belum bisa melakukannya?
Eun Jae hanya mengangguk, Ayah Jae Geol terlihat ssangat menikmati harinya.
Ayah Jae Geol : tahukah kamu, pulau ini dahulu tidak berpenghuni.
Eun Jae : aku tidak tahu.

Ayah Jae Geol : seorang pelayan menemukan pulau ini saat dia hanyut terdampar disini karena badai. Baginya, badai adalah krisis, tapi dia mngurus pulau ini, dan ternyata itu peluang yang sangat bagus.(Eun Jae hanya mengangguk-angguk saja. Ayah Jae Geol mulai mengutarakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan dari tadi) bagi keluargaku, kamu ibarat pulau ini (Eun Jae kaget dan langsung menatapnya) istriku menjumpai badai dan kamu memberinya tempat benaung yang sempurna.
Eun Jae : tidak pak, aku hanya ....
Ayah Jae Geol : kini giliran kami. Seperti sang pelayan yang mengurus pulau ini. kini giliran kami yang memperhatikan dan membantumu.
Eun Jae mau berkata sesuatu, namun Ayah Jae Geol menerima panggilan bahwa makan siangnya sudah siap. Dia mengajak Eun Jae untuk pergi makan siang, Eun Jae pun menyetujuinya dan membereskan alat pancingnya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan tepi pulau.

Mereka sudah duduk di meja makan, Ibu Jae Geol sedang merapikan makanan yang di meja sambil berkata “kita bisa saja makan diluar, tapi aku ingin menyajikan masakan rumahan untukmu, aku memonjam dapur pemiliknya. Kami berteman baik dengan keluarganya” Eun Jae berkata “begitu rupanya” ibu Jae Geol pun mulai mengajaknya makan dan  berharap Eun Jae menyukai masakannya.
Jae Geol : ibu kan tahu, kalau ibu pandai memasak.
Ibu : ibu orang terpelajar, orang terpelajar haruslah rendah hati.
Ayah : abaikan dia dan makanlah.  Kamu jika kelaparan jika mendengarkannya terus.
Ibu : tega sekali kamu.
Jae Geol, Ibunya dan Eun Jae hanya tersenyum, dan ayahnya tertawa sangat lepas, suasan makan siang mereka terlihat sangat hangat.

Hyun masih bersama Woon Jae, Woon Jae sedang sibuk menghubungi ayahnya namun tidak bisa, Hyun memintanya untuk terus memanggil ayanya sampai bisa terhubung.

Tiba-tiba Hyun mendapat panggilan dari Heo Jeong Rim. Hyun pun mengangkat panggilan tersebut “halo”
Heo Jeong Rim : kamu tdai menghubungiku?
Hyun : ya. Apa kamu tahu Young Eun dimana?
Heo Jeong Rim : dia bersamaku.
Hyun : bisa kau berikan ponselnya kepada dia?
Heo Jeong Rim : dia baru saja keluar.
Hyun : kalau begitu, dia pasti baik-baik saja.
Heo Jeong Rim : ya, kondisinya tidak terlalu buruk, ada apa ? apa kalian berhubungan kembali?
Hyun hanya terdiam dan memintanya untuk menghubingnya lagi saat Young Eun kambali “jika dia tidak mau, kamu saja yang menghubungiku” Hyun pun berterima kasih kepada Heo Jeong Rim atas informasinya.

Setelah mengakhiri panggilannya, Hyun kembali ke Woon Jae yang masih berusaha menghubungi ayahnya dan bertanya “masih tidak dijawab” Woon Jae merasa khawatir karena tidak sperti biasanya hyang selalu mengangkat telepon kapanpun dia memanggilnya. Dia semakin khawatir dan takut kalau ayahnya pingsan di suatu tempat “bagaimana jika dia tidak menjawab karena itu, ashhh bagaimana ini?” Hyun mencoba menenangkannya.
Hyun : jangan terlalu cemas, katamu, kamu yang memebelikan ponselnya bukan?
Woon Jae : ya
Hyun : atas nama siapa?
Woon Jae : namaku, untuk berjaga-jaga.
Woon Jae mulai paham dengan apa yang ditanyakan Hyun, Hyun pun langsung memintanya untuk melacak lokasi ayahnya sekarang “jika ponselnya atas namamu, kamu bisa melacaknya” Woon Jae pun langsung melakukan pelacakan dengan ponselnya. Dan akhirnya dia menemukan keberadaan “ini”.
Hyun : kamu tau dimana tempatnya?
Woon Jae mengetahui dimana tempat tersebut, dan bertanya kepada Hyun “apa kamu punya mobil?” dia tidak menunggu jawaban Hyun dan langsung berlari. Hyun Pun langsung mengikutinya.

Eun Jae masih makan siang bersama keluarga Jae Geol, Ibu Jae Geol menambahkan lauknya di piring Eun Jae “coba ini juga” Eun Jae pun mencicipi makanan yang di sarankan Ibu Jae Geol.
Ibu : ayo habiskan, kamu kurus sekali.
Eun Jae (hanya tersenyum) : sedang kucoba.
Jae Geol juga tersenyum mendengar perbincangan ibu dan Eun Jae. Tiba-tiba Ponsel Eun Jae bunyi. Semuanya kaget Eun Jae mendapat panggilan, Eun Jae bilang bahwa itu panggilan dari rumah sakit, Ayah Jae Geol memintanya untuk menjawab panggilan itu.

Eun Jae pun mengangkat panggilan itu, sepertinya panggilan itu sangat penting.

Eun Jae kembali ke meja makan, Ayah Jae Geol bertanya “ada apa?” Eun Jae pun mengatakan bahwa mereka sangat membutuhkannya saat ini juga.
Ayah Jae Geol : aku menyuruh dokter kang untuk menggantikanmu.
Eun Jae : dia tidak bisa bekerja karena radang lambung akut. Gejalanhya adalah muntah-muntah dan diare.
Dengan berat hati ayah Jae Geol mengijinkannya untuk pergi ke rumah sakit meski makan siang dan acara keluarga nya belum selesai. Ibunya bilang “makananmu belum habis” kemudian ayah meminta Jae Geol untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Jae Geol bersedia megantarkannya. Ibunya meminta Jae Geol untuk menjaga Eun Jae dengan hati-hati.