Advertisement
Advertisement
Episode 19 Part 2

Eun Jae tidur menemani adiknya, tapi mereka belum tidaur, Eun Jae terlihat sedang memikirkan sesuatu, Woon Jae bertanya “kakak sudah tidur?
Eun Jae : harusnya begitu, urusalah dirimu sendiri...  (dia berbalik ke arah adiknya) Woon Jae... mulai sekarang, jika ayahmu menghubungimu, beritahu kakak, paham ? (woon Jae langsung perpaaling dari Jae Eun) kenapa tidak menjawab?
Woon Jae : baiklah, aku dengar. Mengenai dokter dari departemen penyakit dalam itu...
Eun Jae : ya.
Woon Jae : tampaknya dia baik.
Eun Jae : benar
Woon Jae : tapi, kenapa kakak dangat dingin kepadanya?
Eun Jae : apa maksudmu ?
Woon Jae : kakak tidak berbelanja di swalayan, kakak langsung mengembalikan uangnnya tanpa berterima kasih (Eun Jae hanya terdiam) bersikaplah lebih baik kepadanya, tampaknya dia menyukai kakak.
Eun Jae (menghembuskan nafasnya) : jangan sembarang bicara dan tidurlah.
Woon Jae langsung bangun dan berkata “kakak juga menyukainya? Tidak ? (Eun Jae hanya terdiam) kenapa kakak hanya diam saja. Kakak menyukainya atau tidak?
Eun Jae : menyukainya atau tidak, itu tidak penting.
Woon Jae : tentu saja penting, kisah cinta kalain akan bagus, kakak belum pernah merasakan cinta sejati, hidup tidak boleh begitu.

Eun Jae mulai berbalik ke arah adiknya dan bilang “Woo Jae, kamu tahu? Ibu mengencani ayah sejak berumur 20th”
Woon Jae : mereka saling mencintai sepenuh hati.
Eun Jae : rupanya kamu tahu.
Woon Jae : astaga. Aku jauh lebih tahu daripada kakak.
Eun Jae : lihatlah akhir kisah cinta mereka yang menggebu itu, ibu meninggal sebelum ayah sempat berpamitan, kamu masih ingin mempedulikan cinta?
Setelah itu mereka sama-sama diam dan kembali mengambil posisi untuk tidur.

Hyun sedang mencari informasi tentang penyakit Nona Choi, dia terus terngiang perkataan Nona Choi “aku di diagnosis penyakit Leukimia Mieloid akut, dokter bilang aku akan meninggal” Hyun menjadi sangat bingung dan khawatir dengan Nona Choi.

Pagi harinya petugas kapal rumah sakit sedang membersihkan kapal, dan melakukan aktifitas rutin setiap pagi.

Perawat dan yang lainnya sedang berkumpul di kantin, pelayan di kapal pun memberi mereka kopi. Saat Eun Jae datang ke kapal, perawat langsun menghampirinya kondisi adinya, Eun Jae kaget kenapa mereka bisa tahu tentang musibah yang menimpa adikya. Perawat pyo bilang “pasti kamu bingung kenapa kami tahu”
Eun Jae : ya.
Won Gong : kami jelas tahu, kami dihubungi terus menerus, di rumah sakit kapal dan asrama.
Eun Jae meminta maaf kepada mereka, Kapten bilang “kamu tidak peprlu minta maaf, bagaimana kondisi adikmu?” Eun Jae bilang kalau adiknya baik-baik saja dan tidak terluka parah, sejak semalam dia sudah boleh pulang, semua yang ada disana merasa lega.
Kapten : karena semua sudah berkumpul, mari kita berkumpul.
Ah Rim : dokter kwak belum datang.
Won Gong : Nona Choi tidak akan datang hari ini, dia harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.
Eun Jae kaget dan bergumam “beberapa hari? Sia sakit?

Hyun melanjutkan mencari informasi tentang penyakit Nona Choi di RS kapal, AH Rim masuk ke ruangannya untuk menawarkan kopi, tapi Hyun mengabaikannya, AH Rim terlihat kecewa dengan sikapnya sata itu.

Ah Rim tidak sengaja melihat layar monitornya dan berkata “Leukimia?” (Hyun langsung melihatnya) “itu soal Leukima? Kenapa kamu mencari tahu soal itu?” Hyun langsung mengalihkan pencariannya ke tema lain, dia trelihat khawatir, takut AH Rim mengetahuinya dan bocor ke yang lain. Ah Rim bertanya lebih lanjut “apa ada yang sakit?
Hyun : aku hanya mencari tahu (dia langsung keluar ruangan)
Ah Rim masih penasaran dan melihat kembali layar monitor Hyun, AH Rim masih bertanya-tanya kenapa Hyun mencari tahu soal Leukimia dan siapa yang sakit?.

Hyun naik ke balkon kapal, dia sangat terlihat sangat kebingungan dan khawatir terhadap penyakit Nona Choi.

Nona Choi sedang bersiap untuk melakukan pemeriksaan ulang, dia terlihat sangat gelisah, para suster disana juga sedang sibuk menyiapkan untuk pemeriksaan Nona Choi, kemudian seorang dokter datang menghampirinya dan berkata “mari kita mulai”
Nona Choi : haruskah aku melakukan pemeriksaan itu lagi?
Dokter itu tidak berkata apapun, dia hanya menghembuskan nafasnya.

Lagi-lagi Hyun sedang menyendiri di balkon kapal, dia terlihat sedang menelpon seseorang, dan orang di telpon itu mengatakan “itu jenis leukimia yang paling buruk, sulit mengobatinya, bahkan dengan kemoterapi sekalipun” dan ternyata Hyun sedang berbicara dengan dokter yang menangani Nona Choi, Dokter itu mengatakan “kita harus mempertimbangkan prosedur cangkok sl induk hematopoietik, saampai sata ini belum ada dono yang pas, mari kita cari solusi lain”
Setelah mengakhiri panggilan dari dokter itu, Hyun kembali melamun dan memikirkan Nona Choi yang sedang menderika penyakit parah, bahkan belum menemukan solusi untuk memnyembuhkannya.

Nona Coi baru keluar dari ruang perawatan, tiba-tiba ada seorang wanita tua (ternyata tu ibu Hyun) yang tak sengaja melihatnya dan langsung berbalik memanggil Nona Choi “bukankah kamu Young Eun? Young Eun pun berbalik melihat wanita itu.
Ibu Hyun : tadinya aku ragu, tapi rupanya benar.
Nona Coi terlihat gugup dan bertanya “kenapa kamu kemari?
Ibu Hyun : untuk pemeriksaan kesehatan, manusia akan terserang penyakit seiring dengan bertambahnya usia, bagaimana denganmu, kenapa kamu kemari?
Nona Choi semakin gugup dan bingung mau menjawab apa.
Ibu Hyun : apa kamu sakit ?
Nona Choi : ya, tidak, maksudku....
Ibu Hyun (ketawa kecil) : apa maksudmu? Sakit atau tidak ?
Karena bingung mau jawab jujur atau gimana Nona Choi langsung pamit pulang duluan karena sibuk, dan langsung pergi.
Ibu Hyun : dia bahkan tidak menyapaku dengan benar, dia pikir aku hanya ibu dari mantan pacarnya, dasar tidak sopan. Ibu Hyun terlihat sangat kesal dengan sikap Nona Choi yang menurutnya tidak sopan.

Ternyata Nona Choi tidak langsung pulang, dia bersembunyi di balik dinding, setelah Ibu Hyun melanjutkan ke ruang pemeriksaan Nona Choi muncul, sepertinya Nona Choi mendengar apa yang dikatakan Ibu Hyun tadi, dia terlihat ssangat khawatir.

Hari menuju sore, Rumah sakit kapal masih berlayar di lautan lepasa yang sangat indah.

Joon Young sedang memerikasa gigi seorang nelayan, dia memberi saran kepada nelayan tersebut untuk mennghindari makanan dan minuman yang terlalu dingin dan panas, nelayan itu pun mengerti apa yang harus dan tidak boleh dimankan, pelayan menanyakan obat kepada perawat.
Perawat : harap tunggu obatnya diluar.
Pelayan itu berterima kasih kepada dr. Joon Young karena telah mengobati giginya.

Joon Young terlihat sangat lelah setelah memerikasa beberapa pasien, dia datang ke kantin dan langsung meminta pelayan untuk menyiapkan makan siangnya sekarang jua, kapten, Won Gong, perawat Pyo, para petugsa kapal dan AH Rim melihatnya yang terus bicara, namun berbeda dengan Jae Geol, dia sedang sibuk sendiri. Kapten bilang tidak ada makanan.
Joon Young : apa maksudmu?
Kapten : Microwave-nya rusak, jadi dia tidak bisa memasak (sambil melihat ke pelayan, pelayan itu terlihat bersalah karena belum masak gara-gara microwave-nya rusak)
Joon Young : jadi itukah yang kita mana?
Jae Geol bilang sambil mengangkat mie instan “kamu mau? Ini enak.
Joon Young : tidak mau, aku bosan makan mie instan.
Ah Rim : kaalau begitu, tidak usah makan bersyukurlah kita masih memiliki makanan ini.
Joon Young kesal karena tidak bisa makan apa yang dia inginkan, Kapten bilang untuk tidak mengeluh “seperti tidak makan beberapa hari saja”

Perawat masuk dengan pasien gigi tadi, dia mengatakan bahwa Kapten Ma akan pergi sekarang, Kapten Ma mengucapkan terima kasih sambil mengangkat bingkisan. Tiba-tiba kapten Ma melihat yang lain sedang makan mie instan san bilang “kerja kalian tidak bagus, jika kalian makan makanan seperti itu” yang lain hanya bengong saja karena tidak ada yang lain lagi untuk dimakan.
Kapten Ma menghampiri Joon Young yang sedang memegang mie instan mentah yang hanya di taburi bumbu dan berkata “mau makan penekuk boga bahari?” Joon Young sengan semangat berkata “penekuk boga bahari?”
Kapten Ma : saudaraku, mengelola restoran di pulau jisim, panekuk bogahari buatannya paling enak di korea. Dokter sudah mengobatiku sunggguh-sungguh dan gigikiu sudah tidak sakit lagi, aku merasa lebih baik berkat kamu (yang lain mulai tersenyum senang dengan sanjunagn kapten mo apalagi dengan Joon Young) aku akan mentraktir sebagai ungkapan terima kasihku, 10 porsi.
Won Gong : tapi Pulau jisim cukup jauh dari sini.
Kapten Ma : hanya 15 menit dengan perahuku dari sini.
Joon Yong : akan ku ambilkan disana sebelum waktu makan siang usai.
Tiba-tiba Ah Rim mengacungkan tangannya dan bilang “aku ikut”
Yang lain pun melihat AH Rim, kapten bilang “arak beras itu tidak bagus bukan? Itu tidak bagus, tentu saja aku tahu (yang lain hanya tersenyum saja) tidak boleh menikmati arak beras” yang lain terlihat sangat senag karena akan makan siang enak.

Joon young berteriak riang di kapal Kapten Ma “Hore penekuk boga bahari”

Telpon Rumah sakit Kapal berdering, perawat pun langsung mengangkat panggilan tersebut, sepertinya dia mendapat berita buruk, dia meminta perwat lain untuk memanggil para dokter.

Perawat tadi langsung berlari menuju ruangan para dokter sambil berteriak “Dokter Hyun. Dokter Dong, Dokter Jae Geol, dokter Joo Young ada pasien yang tidak bisa bernafas” perwat Pyo dan Won Gong kaget mendengar teriakannya.

Dr. Song dalam panggilan, dan bertanya dimana posisi pasien sekarang, Hyun dan perawat lain mengikuti dr. Song. Penelpon mengatakan sambil menangsi “dia sedang makna siang, sepertinya ada yang tersangkut di tenggorokannya, pasien itu kesusahan untuk bernafas dan ibu tersebut semakin histeris melihat kondisi suaminya yang semakin meburuk. Dr, song terus memanggil si penelpon “bu?”
Ibu itu bilang kalau wajahnya semakin membiru, dia terus berteriak dan tak henti menangis “wajah ayahku...” dr. Song mengatakan kepada yang lain “sepertinya pasien tersedak” Hyun langsung berlari ke ruangannya. Dr. Song menenangkan ibu tersebut di telpon.
Dr. Song : bu harap tenang, dan nyalakan pengeras suara ponsel kamu (won Gong juga sibuk menelpon, mungkin dia menghubungi petugas pantai)
Si penelpon pun menyalakan pengeras suara ponselnya dan kembali pokus kepada ayahnya.

Gong Won memberitahu dr. Song bahwa penjaga pantai sudah terhubung. Hyun berlari dan berkata kepada dr. Song “ masa waktu toleransi untuk tersedak hanya 4 menit, akan lebih baik jika kau kesana”
Perawta Pyo : tidak, ada yang bisa lebih cepat darimu?
Hyun : lebih cepat dariku?

Joon Young dan Ah Rim sedang bresenang-senang menikmati birunya laut di pulau jismi, mereka sangat riang sekali karena akan makan enak juga. Tiba-tiba Joon Young menerima telepon dari Hyun.
Hyun : apa kamu sudah di pulau jismi?
Joon Young : ya, kenapa suaramu begitu serius?
Hyun : nyawa pasien tanggung jawabmu sekarang.
Joon Hyung kaget dengan apa yang dikatakan Hyun begitu pun denga Ah Rim, dia heran dengan raut wajah Joon Young.

Kembali ke pasien, anaknya semakin khawatir dengan kondisi sang ayah, wanita itu bersikeras membangunkan ayahnya, dia terus mendengarkan intruksi dr. Song, dr. Song meminyta anaknya untuk mengepalkan tangannya di ulu hati ayahnya dan menutup kepalan tangan wanita itu dengan tangan satunya, wanita itu pun mengikuti perkataan dr. Song.
Dr. Song : tekanlah keras-keras ke arah jantungnya.
Wanita itu mengaku tidak bisa, namun dr. Song terus memaksanya untuk mencoba lagi, kondisi ayahnya semakin parah.

Di RS kapal semakin genting karena tidak bisa melakukan apapu selain meberikan intruksi kepada anaknya, Hyun berharap Joon Young bisa menyelamatkan pasien itu, karena hanya dia yang lebih dekat dan bisa cepat sampai ke lokasi pasien.

Joon Young dan Ah Rim sedang berlari menuju pasien, dari kasi dia tadi tenyata jaraknya cukup jauh, sementara itu anaknya terus berusaha menekankan kepalan tangannya di jantung ayahnya. Dia tetap tidak bisa melakukannya dan semakin histeris dengan tangisannya.
Dr. Song bilang bahwa ada seorang dokter yang sedang menuju kesana, tapi yang bisa menyelamtakn ayahmu saat ini hanya kamu yang ada di dekatnya. Hanya kamu! Dia terus berteriak “bagaimana ini,a ku tidak bisa”
Dr. Song : bisa, kamu pasti bisa menyelamatkan ayahmu, tenanglah.

Putrinya terus mencoba lagi meskipun sulit baginya untuk melakukan hal itu, akhirnya Joon Young tiba dan langsung menghampirinya. Joon Young juga sangat panik melihat pasien sudah membiru dan kesulitan bernafas. Hyun dari RS. Kapal berkata “Joon Young, lakukan manuver heimlich. Cepat lakukan”

Joon Young masih belum melakukan tindakan apapun, dia masih gemetar dan panik, namun Ah Rim menenagkan dan menyemangatinya kalau dia pasti bisa melakukannya. Akhirnya Joon Young melakukan penyelamatan. Dia langsung membantu pasien untuk berdiri dan meminta yang lain itu memegangi sisi perutnya.

Joon Young mengepalkan tanganna dan terus menekan ulu hati paisen dengan susah payah, Joon Young berkata “percuma saja, sepertinya ini sudah terlambat”
Di rumah sakit kapan semakin genting, dr. Song dan dr. Kwak pun saling bertatapan entah apa yang harus diperbuat, Hyun menyuruh Joon Young untuk mencoba  manuver heimlich sekali lagi.
Hyun : Berikan CPR jika itu tidak bisa.


Joon Young mencobanya lagi dengan sekuat tenaga, setelah beberapa kali mencoba akhirnya makanan yang tersedak di tenggorokkannya keluar, putrinya berteriak “ayah ....” Joon Young meminta Ah Rim untuk membaringkan pasien, setelah membaringkan pasien Joon Young terlihat sangat lelah sehingga tidak mendengar perkataan Hyun di telepon.
Hyun : Joon Young, jawablah. Jawab ada apa?

Ah Rim pun mengambil panggilan dari Hyun dan bilang “Dokter Cha sedang tidak bisa bicara”
Hyun : kenapa ? bagaimana kondisi pasien sekarang?
Anaknya sangat senah karena ayahnya masih hidup, AH Rim memberitahu yang dikapal bahwa pasiennya terselamatkan “tapi... tampaknya dokter Cha tak sadarkan diir”
Gong Won (kaget) : tak sadarkan diri?

Joon Young masih belum pecaya kalau dia barusan menyelamatkan pasien dengan tangannya sendiri, dia terus menangis dan berkata “seandainya aku tidak bisa menyalamtkan nyawa pasien...” AH Rim menenangkannya “semuanya berakhir dengan baik, sudalah kamu tak perlu khawatir lagi” sambil berjalan AH Rim terus memijat punggung Joon Young.