Advertisement
Advertisement
Episode 8 Part 1

Jae Geol memegang tangan Eun Jae, kemudian dia menarik tangan Eun Jae untuk mengelus-elus kepalanya sabmil berkata “kerja bagus Jae Geol, aku bisa menyelamatkan pasien berkat kamu” Hyun melihatnya dari kejauhan, dia terlihat cemburu dan khawatir dengan yang di katakan Jae Geol sebelumnya terjadi.

Tiba-tiba Nona Choi datang mengambil minuman dari tangan Hyun dan berkata “sepertinya dia mengalahkanmu, mereka tampak sangat serasi, bagaimana kalau kita juga bersulang?” sayangnya Hyun menghiraukan pekataanya dan langsung pergi. Nona Choi sangat kecewa karena tidak di tanggapi Hyun, kemudian dia melihat Eun Jae dan Jae Geol.

Eun Jae menarik tangannya jari genggaman Jae Geol, Jae Geol berkata “itu benar, apa kamu masih belum percaya?” Eun Jae akhirnya berkata “baiklah, aku tidak akan menyangkal hal yang ku saksikan langsung, tapi aku tetap tidak dapat mengakuinya (Jae Geol terlihat kesal) tapi akan ku pertimbangkan, ada hal-hal yang belum dapat dibuktikan oleh sains, patutkah menganggapnya salah?”
Jae Geol : astaga... itu cukup memotivasi, baiklah, akan kubuktikan semuanya secara ilmiah.
Jae Geol terus menatap Eun Jae apalagi pas dia tersenyum manis dan berkata “ucnhhh cantiknya” Eun Jae langsung berhenti tersenyum dan terdiam, Jae Geol terus menggombalinya “kamu tampak jauh lebih cantik saat tersenyum” Eun Jae tak menghiraukan perkataan Jae Geol dan langsung pergi meninggalkan Jae Geol tanpa pamit.

sebuah mobil ambulan datang, Jae Geol dan Eun Jae membawa pasien dengan belangkar, kemudian mereka memasukkan pasien ke dalam ambulan, Eun Jae bertanya kepada salah satu petugas “apa kamu datang sendirian? Tanpa di bantu dokter lain?” petugas itu mengatakan bahwa ini perintah khusus dari direktur.

Jae Geol : dari ayahku?
Petugas : apa hubungannya dengan pasien?
Jae Geol tak menjawabnya dan hanya tersenyum angkuh sambil  berjalan menuju pintu samping ambulan, petusa itu mengikutinya dan terus bertanya “siapa dia? Kenapa dia sangat mempedulikannya?” namun Jae tidak menjawabnya, dia malah menyuruhnya bertanya langsung kepada ayahnya.
Jae Geol : aku penasaran dengan jawabannya, tolong rawat dia dengan baik (dia tak henti tersenyum)
Petugas : ini tergantung kelakuanmu.

Jae Geol bilang kepada kakek “pergilah ke rumah sakit dulu, aku akan menengokmu sepulang kerja” si kakek melihatnya dan hanya mengangguk “iya”

Dr. Song mulai menutup ambulannya dan berpamitan dengan petugas Rumah Sakit yang membawa kakek untuk perawatan lebih lajut, Jae Geol dan Eun Jae kembali ke Rumah Sakit kapal,

Tiba-tiba Jae Geol mendapat telepon, entah dari siapa, tapi dia terlihat kaget, Eun Jae pun jadi ikutan kaget dengan melihat mimik muka Jae Geol. Jae Geol mengatakan ada masalah. Eun Jae bertanya “apa maksudmu? Apa ada masalah dengan Pak Park Soo Bong?” Eun Jae mulai panik.
Jae Geol : bukan itu, Jae Geol bingung mau bilang apa kepada Eun Jae.

Suasana malam di luar rumah asrama Rumah Sakit Kapal.

Jae Geol dan Eun Jae naik ke lantai atas, tepatnya itu kamar tidur Eun Jae, tiba-tiba disana ada ibu Jae Geol sedang merapikan temapt tidur Eun Jae, Jae Geol kaget dengan apa yang dilakukan ibu dan itu tidak seperti biasanya, Jae Geol pun langsung menghampiri ibunya dan bilang “apa yang ibu kakukan?”
Ibu Jae Geol : apa kamu ingin ibu suapi?
Jae Geol : astaga!!!

Eun Jae menyapa ibu jAe Geol, Jae Geol menjelaskan keapda Eun Jae “kamu pasti bingung, ibuku selalu berlebihan, biar kutangani dulu” Jae Geol menghampiri ibunya lagi, kemjudian dia menghentikan ibunya melakukan hal yang  berlebihan dan berkata “ini melanggar privasi orang”
Ibu JAE Geol : astaga... lepaskan. Dia bisa sakit karena melindungi privasinya, (Jae Geol semakin bingung mebhadapi ibunya) tanggung jawab dia sangat besar, setidaknya dia harus tidur nyenyak.
Eun Jae hanya terdiam dan terus melihat mereka.
Jae Geol : ibu...
Ibu Jae Geol bertanya kepada Eun Jae “apa ini berlebihan?” Jae Geol memotongnya “tentu saja” sambil melihat Eun Jae “bantuan yang tidak diminta bukanlah bantuan”
Eun Jae : tidak,  terima kasih.
Ibu Jae Geol merasa dihormati dengan perkataan Eun Jae, dia merasa lega karena Eun Jae tidak menolak dengan apa yang dia perbuat dengan kamar tidurnya.
Ibu Jae Geo : aku tidak membelinya, aku membuatnya sendiri, agar kamu bisa tidur nyenyak.
Kemudian ibu Jae Geol menyurunya minggir karena menghaliangi untuk menghampiri Eun Jae, ibu Jae Geol menawarkan Eun Jae untuk mencoba berbaring di kasur barunya.

Eun Jae pun menuruti permintaan ibu Jae Geol dan duduk di kasur barunya yang dibawa Ibu Jae Geol, dia meraba kasurnya dengan penuh rasa, Eun Jae terlihat sangat sedih seperti sedang mengingat sesuatu, Jae Geo juga ikut terbawa susana, begitu pulang dengan ibunya, sampai-sampai matanya berkaca-kaca.

Ibu Jae Geol ikut duduk berasam Eun Jae dan berkata “kamu pasti teringat ibumu, aku juga tahu wajah itu, wajah itu yang kulihat di cermin setiap hari” suasana kamar Eun Jae jadi haru, kemudian Ibu Jae Geol meminta “bolehkan aku memelukmu?” Eun Jae langsung menatapnya, ibu Eun Jae lanjut bercerita “aku juga pernah kehilangan seorang anak, aku ingin memelukmu”

Ibu Jae Geol pun memeluk Eun Jae, Eun Jae memeluknya sangat erat seperti memeluk seorang ibu kandung, mereka sama-sama meneteska air mata, meratapi apa yang telah hilang dari mereka, mata Jae Geol pun mulai berkaca-kaca melihat kemesraan mereka sudah seperti seorang anak dan ibu kandungnya.

Mereka turun dari kamar Eun Jae, Jae Geol bertanya kepada ibunya “mobil ibu dibawa pergi?”
Ibu : ya
Jae Geol : tunggukah disini, akan kuambil mobilku.

Setelah Jae Geol pergi, Jae Eun berterima kasih kepada ibunya, Ibu Jae Geol berkata “aku yang seharusnya berterima kasih, kamu telah menerima hadiahku, tidurlah dengan nyenyak dan jangan lupa makan” Eun Jae bilang “baik”. Ibu Jae Geol meminta Eun Jae untuk datang kerumahnya suatu hari nanti dan bilang “aku cukup pandai memasak”.
Eun Jae : tapi bu...
Ibu : ya ...
Eun Jae : terima kasih atas seprai dan tirainya, tapi bolehkan aku mengganti biaya kasur dan raknya.
Ibu Jae Geol kaget “kasur dan rak?” Jae Eun berkata “ya” tapi itu bukan aku yang membelinya, Jae Eun penasaran siapa yang membelikan kasur dan raknya.

Won Gong dan perawat Pyo sedang memasak untuk makan malam, tiba-tiba Eun Jae menghampirinya dan bertanya soal kasur dan rak barunya, Won Gong tersedak mendengar pertanyaan konyol seperti itu dan berkata “tentu saja kami yang membelikannya, dengan anggaran kami yang sedikit, kami menganggapmu serius saat kamu bilang tidak perlu dibelikan apapun, aku mempekerjakanmu di kapal, tapi tidak kusangka bertahan selama ini”
Perawat Pyo : tapi itu ideku, kamu bekerja siang malam, jangan tidur di lantai dengan kantung tidur, nanti punngungmu bisa sakit saat seusiaku.
Won Gong : itu juga, serta aku meras kamu akan bekerja disini dalam jangka waktu lama.
Perawat Pyo : kenapa? Kamu tidak senang? Kamu masih ingin kembali ke rumah sakit lama?
Eun Jae : tidak, aku suka bekerja di rumah sakit kapal
Mereka senang dengan jawaban Eun Jae, tiba-tiba Won Gong bertanya hal yang lain “apa ada yang mengusikmu?” Eun Jae bilang “tidak” Tapi Won Gong masih penasaran “tapi ekspresimu berkata lain” Eun Jae langsung pamit pergi, namun perawat Pyo menghentikannya dan mengajaknya makan malam bersama “kami memasak sesuatu yang sangat lezat”
Eun Jae : apa?
Perawat Pyo : kami memanggang ikan, dokter Kwak pergi membelinya, sebentar lagi dia akan kembali, makanlah bersama kami sebelum pergi.
Eun Jae : sebentar lagi giliran kerjaku, selamat malam (dia langsung pergi).

Setelah Eun Jae pergi mereka masih membicarakan soal Eun Jae.
Perawat pyo : aigooo... dia jarang makan tepat waktu, dia bisa sakit.
Won Gong : aku belum melihatnya libur seharipun bulan ini.
Perawat Pyo : kurasa itu karena hutang.
Won Gong : separuh gajinya ditarik sebelum dia di gaji.
Perawat Pyo : itu untuk bank, kurasa kali ini dia berurusan dengan lintah darat.
Won Gong (kaget) : apa? Lintah darat?

Hyun sedang dalam perjalanan pulang, dia mengendarai mobil sendirian tanpa di temani siapapun, tiba-tiba Eun Jae lewat menyebrang jalan, dia menuju halte bus dan  duduk disana, Hyun terus memperhatikannya dari dalam mobil.

Eun Jae bersandar di halte, dia terlihat bingung dan memikirkan sesuatu, Hyun masih meperhatikannya namun dia tidak berani menghampirinya.

Di jalan raya terjadi kecelakaan beruntun 5 mobil sekaligus di jalur 14, Pasien sedang dibawa ke rumah sakit.

Pasien tiba di rumah sakit, Eun Jae sangat sibuk dengan pekerjaannya mengurus korban kecelakaan, namun dia tidak seperti biasanya, dia terlihat lebih lelah dan capek.

Disisi lain Jae Geol sedang menemani kakek di rumah sakit, dia sedang menempelkan sesuatu di perut kakek tersebut, si kakek terus melihat Jae Geol tanpa berkata apapun, Jae Geol pun mendekatinya sambil memegang tangan kakek.

Eun Jae dan tim dokter lain sedang menyelamatkan pasien, mereka memancing jantung pasien, disana terlihat semakin genting karena kondisi jantung pasien semakin melemah, pasien tak terselamatkan, dan Eun Jae pun mengumumkan jam kematiannya “02:52” kemudian Eun jAe meminta perawat untuk menghubungi walinya.

Tepat pukul 02:53 Hyun masih belum tidur, dia memikirkan percakapannya waktu itu dengan Eun jAe “jika bukan karena itu, apa karena ibumu? Karena aku tidak dapat menyelamatkan ibumu?”

Kembali ke rumah sakit, Eun Jae sedang membersihkan luka di kepala korban kecelakaan itu, dia terlihat sangat fokus meski dia lelah dan banyak memikirkan banyak hal.

Hyun sedang dalam perjalanan, entah kemana tujuan dia tengah malam begini pergi keluar.

Eun Jae melanjutkan pekerjaannya, dia mulai memasang perban di kepala pasien dengan bantuan perawat, Eun Jae benar-benar sangat lelah, bahkan hari ini dia belum sempat istirhat sedikitpun.

Tiba-tiba ada darah yang menetes di perban pasien, Eun Jae bilang “kenapa ini? kenapa bisa ada darah?” kemudian ada seseorang datang membawa lap tangan dan langsung menempelkan di hidungnya Eun Jae, ternyata darah itu menetes dari hidung Eun Jae, orang itu bilang “bukan kamu, tapi dia”

Oh ternyata orang itu Jae Geol, dikira orang itu Hyun, Jae Geol selalu muncul tiba-tiba di depan Jae Eun sejak ibunya diselamatkan Eun Jae, saat Eun Jae mencoba melepaskan tangannya, Jae Geol bilang “jangan mendongak, darahnya bisa menyumbat saluran pernapsan, kamu ingin menghabiskan nafas? Mana mungkin dokter bedah tidak mengetahuinya” Eun Jae langsung berdiri dan menatapnya, kemudian Eun Jae meninggalkan ruang tindakan.

Eun Jae di toliet membersihkan mimisannya, dia tak habis pikir kenapa dirinya bisa seperti ini.

Jae Geol menunggunya di depan toilet, akhirnya Eun Jae keluar, Jae Geol terlihat sangat khawatir dan bertanya “kamu baik-baik saja?” Eun Jae tidak menjawabnya, dia malah pergi begitu saja.

Namun Jae Geol menariknya sambil berkata “mana mungkin kamu baik-baik saja” Eun Jae berusaha melepaskan tangannya.
Eun Jae : apa-apaan ini, lepaskan aku.
Jae Geol : ashhhh... ikut saja denganku.

Jae Geol membawa Eun Jae ke sebuah ruangan, Eun Jae bertanya-tanya “mau apa kamu?” Jae Geol bilang “aku tahu ayaku sangat kejam, tapi ini berlebihan” dia menyuruh Eun jAe untuk duduk di kursi pijat.
Jae Geol : bisa-bisanya dia membuat dokter bekerja sekeras ini.
Jae Geol membantu Eun Jae melepaskan sepatunya, bahkan sampai mengangkat kakinya ke mesin pijit, Eun Jae menyuruhnya untuk tidak berlebihan, namun Jae Geol membantahnya “beri aku waktu 15 menit, selama itu alat ini bekerja” Eun Jae pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam saja dengan apa yang dilakuka Jae Geol terhadapnya.

Lagi-lagi Hyun terlamabat dan selalu kena batunya, dia selalu melihat kedekatan Eun Jae dengan Jae Geol, meskipun Eun Jae tidak menanggapi Jae Geol tetap itu membuat Huyn sakit hati dan salahpaham.
Jae Geol : sejak ibuku di rwat sampai hari ini, kamu belum mengambil libur seharipun. Hari ini, kamu juga menangani operasi yang sangat sulit, jika bekerja keras itu tanpa beristirahat, pria yang sehat pun bisa pingsan kewalahan, kosongkan pikiranmu selama 15 menit”

Saat Jae Geol melihat Eun jAe, dia sudah tertidur lelap, dia sangat kewalahan sampai-sampai Eun Jae tertidur sangat lelap, Jae geol terus menatapnya meski dalam keadaan tidur, Hyun melihat lebih jelas Jae Geol dan En Jae, kemudian dia pergi (lebih baik Hyun langsung pergi saja daripada sakit hatinya kebangetan kan hehe).

Hyun pulang tanpa arah tujuan, dan ternyata tujuan utama Hyun keluar tengah malam itu untuk menemui Eun Jae di Rumah sakit, namun dia keduluan sama Jae Geol. Malah sakit hati dan cemburu yang dia dapat. Kemudian dia merenungi dirinya di dalam mobil.