Advertisement
Advertisement
Episode 18 Part 2

Ayah Hyun sedang sibuk menggambar di ruangannya, tiba-tiba Hyun datang ditemani perawat. Ayahnya bilang “kamu datang?”
Hyun : hari ini. apa ayah.... (Hyun langsung mengalihkan apa yang ingaina di bicarakan kepada ayahnya) kenapa ayah belum tidur? (sambil mendekati ayahnya).

Ayah : ayah sedang mengerjakan sesuatu.
Hyun : apa itu?
Ayah : ada ini dari kotak pesan tadi, ini dari dr. Song Eun Jae. (ayahpun memperlihatkan gambarnya kepada Hyun)
Hyun melihat gamabr itu satu persatu sambil bertanya “apa ayah akan menjawabnya?” ayahnya akan berusaha sebisa mungkin untuk menjawab pertanyaan Eun Jae lewat gambarnya tersebut. Hyun mengembalikan gambarnya kepada ayah, ayah pun fokus kembali menjawab pertanyaan Eun Jae.
Hyun : dokter Song selalu memulihkan ingatan ayah, tapi aku.... merenggut ibunya darinya.
Ayah langsung berhenti menjawab pertanyaan gambar-gambar tersebut dan melihat Hyun.
Hyun : tapi aku tidak boleh menyerah, namun aku tidak bisa.
Ayah : kamu tidak boleh menyerah, hingga saat terakhir, seorang dokter (ayahnya tiba-tiba terdiam dan melanjutkan kembali perkataannya) tidak boleh menyerah dalam menangani pasiennya, karena begitu kau menyerah, kamu bukan dokter lagi.

Meskipun sudah malam, Hyun tetap membawa ayahnya jalan-jalan ke luar asrama tempat ayahnya dirawat, ayahnya sudah tertidur lelap di kursi roda, dan Hyun masih memikirkan sesuatu.

Ibu Jae Geol mmemberikan koran harian kepada suaminya dan bilang “kamu bangun lebih awal, apa tidur kamu nyenyak?” tiba-tiba Jae Geol muncul dan langsung bertanya “apa tidur ayah nyenayk?” ayahnaya bertanya kepada Ibu Jae Geol “sedang apa dia disini?” dia hanya fokus membaca koran tanpa menoleh anaknya sedikitpun.
Ibu : mengambil barang untuk rumah sakit.
Jae Geol : terima kasih (ayahnya langsung melihat Jae Geol) aku juga datang untuk berterima kasih, terima kasih telah merawat kakek.
Ayah : tidak perlu, anggota keluarga harus saling membantu.
Jae Geol : aku pamit.
Ayah : dimana sarapannya?
Ibu : sekarang? Bolehkah dia ikut sarapan?
Ayahnya hanya terdiam, kemudian ibunya memberi intruksi kepada Jae Geol untuk segera pergi ke ruang makan.

Di ruang makan, semuanya sangat lahap, tapi ayah dan Jae Geol terlihat kaku dan saling lirik, mungkin ini moment yang jarang terjadi dan sekarang baru bisa sarapan bersama lagi. Ayah dan Jae Geol sama-sama ingin mengatakan sesuatu.
Ibu : kalian melakukan telepati? (sambil tersenyum kecil)
Ayahnya menyuruh Jae Geol untuk duluan bicara, mereka malah saling lempar untuk mengatakan lebih dulu.
Ayah : kamu dulu, jangan biarkan ayah mengulangi ucapan ayah.
Jae Geol pun mulai bicara : ini soal dokter Song.
Ayah : dia bekerja terlalu keras di UGD.
Ayah : lalu, kamu mau protes? Kamu akan melawan atasan yang kejam?
Jae Geol : tidak, bukan begitu...
Ayahnya tidak pernah menyuruh Eun Jae bekerja keras seperti itu, tapi itu dia yang menginginkannya. Jae Geol kaget “dia yang menginginkannya?”. Ayahnya menyimpulkan kalau Jae Geol punya masalah. Jae Geol bilang “masalah?”
Ayah : ya, sepertinya itu maslah keuangan, ayahnya juga mengatakan kalau separuh uang gajinya di tarik pihak bak tiap bulan. Kamu ingin membereskannya?
Jae Geol : aku?
Ibu : apa maksudmu?
Ayah : ayah tidak tahu ada apa, tapi dokter Song tampaknya bukan orang yang akan mencari masalah. Ayah rasa itu masalah keluarga, kita bisa membantu dia menyelesaikan masalahnya.
Ibu : sayang... maksudmu? (ayah menghentikan pembicaraan istinya)
Ayah : bagaimana pendapatmu tentangnya? Ayah ingin menerimanya ke keluarga kita (ibu dan Jae Geol kaget dengan perkataan ayahnya yang tiba-tiba seperti itu)
Ibu : kamu tidak boleh berkata begitu sebara tiba-tiba (Jae Geol hanya tersenyum saja)
Ayah : kenapa? Kamu tidak setuju?
Ibu : bukan begitu (dan langsung melempar perkataannya kepada Jae Geol) tapi bukankah seharusnya kita menanyakan pendapatnya?
Jae Geol : hari yang laur biasa.
Ibunya semakin kaget : maksudmu?
Jae Geol : ayah dan aku akhirnya sepakat atas sesuatu.
Ibunya kesal karena sepakat dengan ayahnya, ayahnya bilang “hei, kamu mau mencobanuya?” Jae Geol dengan cepat menjawab “ya, sekuat tenaga”.
Ayah : kalau begitu, mari kita undang dia.
Ibu : kenapa terburu-buru sekali?
Ayah marah dan bilang “jadi kamu setuju atau tidak?”
Ibu : aku setuju, ya setuju. Apa kamu paham dengan perkataanku? (dia memberikan senyuman manis kepada Jae Geol).

Setelah selesai membicarakan beberapa hal dan Eun Jae, mereka melanjutkan sarapannya, tiba-tiba Jae Geol dan sang ayah mengambil makanan yang sama dalam satu waktu mereka pun saling bertatapan mata, ayahnya tidak mau keduluan sama Jae Geol dan akhirnya dia membating sumpit Jae Geol sebagai tanda harus ayahnya duluan yang mengambil makanann tersebut. Jae Geol pun mengalah dari ayahnya, dan ibunya malah menertawakan tingkah aneh mereka yang selama ini paling di tunggu-tunggu.

Di pagi yang sangat cerah, Rumah Sakit kapal sudah stand by di dermaga menunggu para pasien berdatangan untuk melakukan pemerikasaan.

Di dalam kapal Joon Young sedang sibuk memeriksa pasien giginya, Jae Geol pun juga terlihat lebih semangat tidak seperti biasanya, dia sedang sibuk menyiapkan alat akupunkur bersama perawat.

Lagi-lagi Eun Jae dan Hyun dapat tugas bersamaan, mereka mendapat tugas luar, mengunjungi rumah satu per satu, barangkali ada pasien yang tidak bisa berjalan atau susah keluar untuk mendapatkan pengobatan.
Mereka mulai berpencar dan memeriksa pasiennya masing-masing dengan penuh semangat.

Jae Geol mendapatkan pasien, dia sangat antusias dan memberikan penuh perhatian tidak seperti biasanya, pasien terus mengeluh tentang rasa sakit yang di deritanya, Jae Geol menenangkannya bahwa dia akan menghilangkan rasa sakinya meski awal pengobatan ada sedikir rasa sakit.
Perawat Pyo lewat ruangan Jae Geol, dan tidak sengaja dia melihat Jae Geol sedang memerikasa pasien dengansangat ramah. Perawat pyo mundur lagi dan memasuki ruanga Jae Geol sambil bertanya kepada perawat dengan memberikan kode pada perawta tersebut. Jae Geol kaget melihat perawat Pyo.
Jae Geol : kenapa kamu kemari?
Perawat Pyo : kamu baik sekali hari ini, apa kamu makan makanan basi?
Jae Geol : apa maksudmu? Bersikpa baik itu bagus. Hidup itu hanya sekali.
Perawat Pyo dan yang satunya lagi kaget mendengar perkataan Jae Geol yang tidak bisanya, tapi itu membuat mereka senang ada perubahan di diri Jae Geol.

Hyun baru keluar dari rumah sakit, dia di antar orang rumah sampai teras, Hyun merasa tidak nyaman karena pasien tersebut telalu berlebihan. Hyun pun berpamitan, sebelum Hyun menjawuh pasien itu berkata “aku tidak akan pergi jaub dokter”.
Eun Jae juga baru keluar dari rumah pasien dan kebetulann rumahnya juga berdekatan dengan pasien yang diperiksa oleh Hyun. Saat Eun Jae berpamitan untuk pergi tiba-tiba pasien memberikan bingkisan untuk Eun Jae, Eun Jae berkata “tidak apa-apa” namun pasien itu tetap memaksa dan menyuruhnya untuk berbagi dengan yang lain.
Hyun pun menghampiri Eun Jae dan berkata “kulihat kamu menerima suap, kamu ingin membagikannya, bukan?” sambil mengambil bingkisan itu agar Eun Jae tidak repot membawa nayak barang.
Hyun : jadwalmu di UGD hari ini pukul berapa?
Eun Jae : aku tidak bekerja hari in.
Hyun : kalau begitu, mau makan malam bersama? Ada yang ingin aku sampaikan.
Eun Jae : maaf tidak bisa, ada janji dengan tamu penting (dia langsung pergi begitu saja).
Hyun sudah tidak aneh lagi dengan sikap dinginnya itu.


Eun Jae mulai berjalan untuk menemui seseorang yang dia bilang tadi, dan ternyata dia bertemu dengan Nona Choi, Nona Choi menyapanya, ketika sampai Eun Jae langsung minta maaf “maaf aku datang terlambat”
Nona Choi : aku yang datang lebih awal, duduklah.
Eun Jae pun duduk setelah dipersilahkan duduk, mereka saling bertatapan belum ada yang mulai biacar duluan. Akhirnya Eun Jae yang bicara duluan.
Eun Jae : kenapa kamu ingin bertemu denganku?
Nona Choi memintanya untuk lebih santai dan menawarkan untuk minum lebih dulu, Nona Choi terlihat sangat santai. Tiba-tiba Eun Jae mendapat panggilan telepon, dan ternyata itu panggilan dari Woon Jae, namun dia malah mematikan panggilan itu, tapi Woon Jae terus memanggil Eun Jae.
Nona Choi : jawab saja, mungkin itu penting.
Eun Jae pun membuka ponselnya lagi, dia tidak mengangkat panggilan tersebut, dia malah mengirimkan pesan suara “nanti aku akan menghubungimu” setelah itu dia langsung mematikan ponselnya.

Telepon di Rumah Sakit Kapal berdering. Yang mengangkat panggilan tersebut adalah Hyun, sepertinya si penelepon menanyakan seseorang yang adai rumah sakit kapa, namun sayangnya orang yang bersangkutan tidak ada.
Hyun : dengan siapa ini?
Setelah mendapat berita dan siapa yang dicari penepon tersebut, hyun panik dan langusng pergi.

Hyun berlari keluar sambil terus mencoba menelpon seseorang, namun percuma nomor tang dia panggil sedang tidak aktif.

Kembali ke Eun Jae dan Nona Choi, saat Eun Jae sedang menikamti minumannya, tiba-tiba Nona Choi membahas pekerjaan Eun Jae di Seol.
Nona Choi : apa kamu tidak ingin bekerja di Seol lagi? (Eun Jae langsung berhenti minum) bagaimana dengan rumah sakit Saewon? Itu jauh berbeda dari rumah sakit Seol Daehan, tapi itu termasuk rumah sakit besar di korea (sepertinya dia menginginkan sesuatu dari Eun Jae).
Nona Coi meminta Eun Jae untuk memikirkan penawarannya, kalau bersedia, Nona Coi akan memanfaatkan kenalannya (Eun Jae sangat santai menanggapinya)
Eun Jae : bagaimana caranya? Siapa kenalanmu?
Nona Choi : kakak ayahku adalah anggota direksinya, itu tidak sulit, karena dia sangat menyukaiku.
Eun Jae : kamu terlalu murah hati.
Nona Choi : aku tidak murah hati, ini semua demi diriku. Ahhh mungkin saling menguntungkan. Aku menyingkirkanmu dari hadapan Hyun dan memberimu pekerjaan di rumah ssakit besar.
Eun Jae merasa tersinggung dengan perkataanya, dia pun langsung berdiri seolah akan langsung pergi. Nona Choi pun akhirnya berdiri juga.
Eun Jae : aku permisi.
Nona Choi : kamu menolah?
Eun Jae : ya.
Nona Choi : apa alasanmu? Kenapa kamu ingin bekerja di kapal yang usang?
Eun Jae marah : jaga ucapanmu! Bagi penduduk pulau, kapa ini penyelamat mereka.
Nona Choi : itu alasanmu tetap bertahan disana?
Eun Jae : benar.
Nona Choi : kamu ingin bekerja di rumah sakit kapal atau tetap berada di dekat Hyun?
Eun Jae tidak menjawabnya dan hanya berdiam diri, Nona Choi memintanya untuk menajwab “kamu menyukainya?” Eun Jae pun akhirnya menjawab “ya”. Nona Choi terlihat sangat marah dengan jawabannya.
Nona Choi : apa katamu? Kamu bersungguh-sunggu?
Eun Jae : tentu saja, seandainya aku berencana memikirkan cinta dalam hidupku, Dokter Kwak-lah jawabannya.
Nona Choi semakin tidak paham dengan jawabannya “apa maksudmu?”
Eun Jae : bersyukurlah, karena aku tidak tertarik dengan cinta.
Nona Choi semakin penasaran : kenapa kamu tidak tertarik dengan cinta?
Eun Jae merasa tidak terlalu akrab dengannya jadi dia tidak perlu menjelaskan apa alasannya kepada Nona Choi, Nona Choi hanya terdiam samapi Eun Jae pergi dari hadapannya.

Eun Jae pergi sambil berjalan kaki, dia terus berjalan sampai hari makin gelap, dia terlihat tidak ada arah tujuan untuk dia tuju hari ini. di sepanjang jalan dia gelisah dan tampak memikirkan sesuatu.

Terjadi kecelakaan, di Rumah sakit watrawan sudah menunggu keatangan korba bencana, akhirnya Korban kecelakaan mulai berdatangan ke Rumah sakit dengan amulan, di RS sudah banyak wartawan yang menunggu kedatangan korban untuk mencari informasi apa penyebab kecelakaan tersebut dan bagaimana kondisis korban samapi saat ini. Tiba-tiba Hyun datang dengan mobilnya, dia langsung berlari seperti sedang mencari seseorang yang ada di gedung itu. Dia melihat pasien yang dibawa para petugas RS.

Di sebuah toko, ada berita tentang kecelakaan tersebut, di berita tersebut menyebutkan korban yang selamat dan yang hilang, namun Eun Jae tidak menghiraukan berita tersebut, dia lebih fokus mengambil soju. Eun Jae membawa Sojunya ke kasir.
Eun Jae : berapa?
Pelayan tioko : kamu minum-minum lagi? Kenapa kamu selalu minu-minum setiap hari? Dia terus mengoceh kepada Eun Jae.
Eun jAe trelihat kesal dengan pelayan tersebut dan bertanya kembali “berapa?”
Pelayan : 10 dollar
Eun Jae pun memberikan uangnya. Setelah dia mendengar kata “Song Woon Jae, seorang mahasiswa berusia 28th” dia langsung terdiam (seperti seseorang yang tadi terus memanggil Eun Jae)

Eun Jae pun mulai fokus dengan berita terebut dan terlihat khawatir, kemudian dia meminta pelaya untuk mengeraskan volume tv-nya, setelah yakin dengan kata Woon Jae, soju yang dibawa Eun Jae terjatuh dan langsung berlari ke luar toko.

Eun Jae sibuk mencari taksi namun tak ada taksi yang berhenti satupun, dia terlihat bingung, gelisah dan khawatir dengan Woon Jae.

Hyun mengatakan kepada seorang perawat bahwa tadi dia di hubungi pihak rumah sakit kalau rekannya ada dalam daftar kecelakaan, dan ternyata dia mencari Song Woo Jae, perawat itu mengira kalau Hyun adalah walinya, dan dia langsung menunjuk ke arah resepsionis untuk mendapat informasi lebih lanjut tentang pasien.

Eun Jae sedang di dalam taxi, dia menelpon Woon Jae namun nomornya tidak dapat dihubungi, Eun Jae terlihat khawatir, dia terus mengulangi panggilan ke Woon Jae namun tetap tidak dapat dihubungi, kemudian Eun Jae meminta sopir taksi untuk mengemudi lebih cepat.

Eun Jae baru tiba di RS, dia terlihat sangat khawator dengan adiknya, setelah turun dari taxi dia langsung berlari ke IGD mencari adiknya di setiap ranjang yang sedang di atasi oleh para perwat. Eun Jae menemukan Hyun sedang menemani pasien yang tertutup selimut rumah sakit. Dia sangat lemas saat melihatnya, akhirnya Hyun melihatnya dan mereka pun salig pandang. Tatapan mata Eun Jae penuh dengan pertanyaan, apakah psien itu adiknya atau bukan? Kalau benar, kenapa Hyun bisa menemaninya? Bagaimana kondisi Woon Jae yang sebernya? Semakin mengangakan semakin seru...